Paradoksa PEMILU 2004 dalam Karya FJK
PEMILU 2004 MENGALAMI PARADOKS, kesenjangan, pertentangan atau kontras antara idealisme dengan faktual yang terjadi. Angan dan kenyataan yang kontradiktif menjadi suatu tontonan yang seringkali luput dari pandangan kita ketika pesta demokrasi berlangsung beberapa waktu lalu. Padahal jelas-jelas fenomena tersebut terpampang di mata kita selama sebulan penuh. Hanya segelintir orang saja yang sadar akan ironi tersebut, salah satunya komunitas Fotografi Jurnalistik Klub (FJK) FISIP UAJY yang merekam berbagai macam paradoks tersebut lewat pameran fotografi "Rupa PEMILU 2004" di Bentara Budaya yang berlangsung sejak lima hari lalu (23/4) dan berakhir hari ini.
Kris Budiman, seorang antropolog dari UGM coba mengomentari kecenderungan komunitas tersebut dalam memunculkan retoris dan ironi pada karya-karya mereka di Bentara Budaya, Jl. Suroto 2 Kotabaru, semalam (26/4)." Lewat kekuatan verbal dan salah kaprah FJK coba merekam kondisi paradoks PEMILU yang lalu dalam karya-karya mereka," paparnya. Misalnya saja dalam "Kebesaran Soekarno" karya Switzy. Foto hitam putih berukuran 10R tersebut memperlihatkan sebuah poster Bung Karno yang tengah berpidato yang memenuhi seluruh bidang foto dan jari telunjuknya menunjuk ke depan. Sementara di bawahnya nampak seorang laki-laki berkacamata hitam, berkopiah dan juga berpidato. "Kedua figur orator tersebut sangat kontras, gambar Soekarno begitu besarnya, sedangkan laki-laki di bawahnya begitu kecil. Hal tersebut mwnunjukkan paralelisme yang tidak balance bila dilihat dari proporsi pembagian bidang gambar," jelasnya.
Contoh lainnya adalah "Menguap" karya Hillaryo Oscar yang menggambarkan seorang anak kecil berkaos moncong putih sedang menguap."Dari foto tersebut nampaknya Oscar ingin menyampaikan sebuah paradoks-kontradiksi tindakan tersebut yang merupakan indeks dari rasa kantuk, bosan, atau capek karena diperhadapkan dengan orasi yang berapi-api oleh para jurkam," ungkap Kris.
Yang menarik, berbagai macam paradoks tersebut dapat digambarkan FJK dengan halus hingga kadang-kadang kita tidak menyadarinya bila tidak mengamatinya karya-karya tersebut dengan sungguh-sungguh. Bahkan sebuah paradoksa pun akhirnya muncul dari bidikan mereka. "FJK berhasil melampaui ideologi dan stereotipe sosial budaya yang dominan yang tidak sekedar memunculkan paradoks tapi juga counter opinion terhadap apa yang terekam dalam foto-foto PEMILU 2004 lalu.
Walaupun demikian yang sedikit disayangkan, karya-karya tersebut masih banyak yang belum bisa dikatakan sebagai foto jurnalistik dan lebih ke foto yang artistik. "Karena mereka masih bereksperimen maka hasil jepretannya masih banyak yang belum bisa dibaca atau kurang komunikatif," komentar Eko Budiantoro selaku kurator mereka. Namun FJK telah mampu merekam hajatan demokrasi tersebut menjadi sebuah kenangan paradoks yang paradoksa.



Kirim Komentar