Pemutaran Film BBY : Rasisme Amerika Yang Membawa Berkah Oscar
MENYEBUT NAMA AKTOR-AKTRIS TERBAIK HOLLYWOOD pastilah ingatan kita akan tertuju pada beberapa nama seperti Jack Nicholson, Morgan Freeman, Geofrrey Rush, Helen Hunt, Jessica Tandy dan Halle Berry. Aktor-aktris tersebut seringkali menjadi langganan nominasi ataupun mendapatkan piala Oscar dalam ajang tahunan Academy Awards yang diselenggarakan dunia perfilman Amerika. Sebut saja, Jack Nicholson yang memboyong Oscar untuk filmnya "Few Good Men" tahun 1992, "Terms of Endearment" tahun 1984, "As Good As It Gets" tahun 1998 dan lainnya. Sementara Jessica Tandy pada tahun 1989 mendapatkan Oscar untuk aktingnya dalam film drama "Driving Miss Daisy", Best actress BAFTA tahun 1991 dan lain sebagainya.
Berkenaan dengan penghargaan tahunan tersebut, selama dua hari ini (29-30 April), Bentara Budaya Yogyakarta dalam pemutaran film bulanan kali ini memilih empat film yang banyak mendapatkan penghargaan untuk best actor dan best actress seperti "Driving Miss Daisy", "Shine", "As Good As It Gets" dan "Monster`s Ball". Harapan dari diputarnya film-film yang dibuat dalam masa 10 tahun terakhir ini, para penikmat seni kita bisa mempelajari bagaimana akting seorang pemain dengan disiplin yang berbeda-beda namun bisa menghasilkan permainan yang berkualitas. Jarak waktu tersebut diharapkan juga jadi tolok ukur bagaimana seni akting itu berubah, berkembang atau tetap sama.
"Driving Miss Daisy" yang diputar hari ini, dimainkan secara apik oleh aktor afro-america Morgan Freeman yang berperan sebagai Hoke Coburn, sopir pribadi dari seorang janda setengah baya Daisy Werthan keturunan Yahudi yang dimainkan oleh Jessica Tandy. Dengan setting film tahun 1950-1970-an, persahabatan terjadi antara kedua orang berbeda ras tersebut yang pada waktu itu, rasisme masih menjadi permasalahan besar bagi orang Amerika. Daisy menjadi orang yang skeptis dan keras kepala terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Lebih-lebih terhadap sopir pribadi yang diberikan anaknya Boolie (Dan Ackroyd), si negro Hoke. Sikap diam, bijaksana dan toleran atas diskriminasi ras yang ditunjukkan Hoke tiap harinya pada Daisy mengusik hati wanita itu yang telah lama mematikan perasaannya pada orang lain karena perlakuan yang didapatnya di masa lalu sebagai keturunan minoritas Yahudi yang dibenci banyak orang.
Ketika ia dan Hoke disuruh berhenti oleh polisi hanya karena menyetir dengan baik, Hoke tetap sabar dan tidak berkomentar apapun. Bahkan ketika mereka berdua diejek oleh polisi tersebut yang heran atas keberadaan keduanya, Hoke tetap diam. Daisy dengan gerahnya merasa terhina atas perlakuan tersebut namun tidak bisa melakukan apa-apa. Daisy juga heran ketika dengan sabarnya Hoke mengomentari perlakuan orang yang tidak mau mempekerjakannya karena ia seorang negro. Sejalan dengan berjalannya waktu dan persahabatan yang mereka bina selama 25 tahun, akhirnya Daisy menjadi lebih arif dalam menyikapi segala sesuatu karena pelajaran yang didapatkannya dari Hoke yang tidak mengindahkan segala diskriminasi.
Film drama yang diadaptasi dari drama musikal karya Alfred Hury berdurasi kurang lebih dua jam ini akhirnya membawa Jessica mendapatkan Piala Oscar untuk kategori aktris terbaik 1989, Morgan sebagai nominator aktor terbaik dan Best Picture. Sayangnya sutradara Bruce Beresford tidak berhasil menjadi sutradara terbaik, bahkan dinominasikan sekalipun tidak.



Kirim Komentar