Film Dokumenter tentang Masyarakat Tidak Sekolah
WORKSHOP FESTIVAL FILM PELAJAR (FFP) YOGYAKARTA yang diselenggarakan oleh Gaia Solutions di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta selama dua hari sejak Sabtu (1/5) hingga Minggu (2/5) banyak mengupas bagaimana membuat dan membentuk sebuah film dokumenter. Dengan tema "Masyarakat Tidak Sekolah" tersebut, workshop menjadi lebih terarah dengan tajuk tunggal sehingga mempermudah dalam menyiapkan konsep dan alur ceritanya. Tampak antusias, ruang seminar dipadati oleh 84 siswa baik dari tingkat SMP maupun SMA.
Iwan selaku koordinator acara dalam rangkaian FFP yang ditemui GudegNet disela-sela workshop mengemukakan bahwa antusiasme rekan-rekan pelajar perlu mendapat acungan jempol untuk mau belajar mengenai pembuatan film, khususnya film dokumentasi. Bambang "Kirik" Ertanto sebagai Ethnography Expert mendapat kesempatan untuk menjelaskan bagaimana pentingnya riset yang agak baik sebagai alat-alat dalam memperkuat sebuah film (Dokumenter Variety Documentary). Tampil pula dalam workshop selama dua hari tersebut sebagai pembicara, diantaranya Heru Kesowo Murti (Pak Bina) dan Bambang Paningron.
Beberapa alat dan kemudian isu mengenai masyarkat tidak sekolah dalam diskusi, Kirik mendapatkan bahwa para pelajar memandangi tema tersebut sebagai orang-orang yang tidak belajar secara formal. "Dengan adanya kata formal maka mengarah dengan menunjuk orang atau sekelompok orang yang tidak di dalam "sekolah". Relasi-relasi kemudian terjadi di suatu ruang atau tempat dan membentuk suatu peristiwa, perisitiwa ini dirangkai menjadi kegiatan dalam sehari seseorang atau sekelompok orang," tukasnya.
Dengan alat bantu diagram dan peta, Kirik memperjelas skema para pelajar dalam mendefinisikan mana yang masuk dan tidak dalam kategori masyarakat tidak sekolah. Waktu menjadi bagian penting dalam sebuah peristiwa yang nantinya masuk dalam sebuah teknologi film. "Waktu adalah sejarah dan dapat di-update atau tidak tergantung dari eksplorasi teman-teman yang dituangkan dalam film nantinya. Pada intinya saya ingin membantu untuk memahami tidak hanya sekedar dokumenter tapi juga membuka perspektif yang lain," imbuhnya.
Beberapa kali Kirik mengungkapkan kata riset yang menjadi inti sebuah film dokumenter. Film dokumenter sendiri bisa digambarkan sebagai film dengan peristiwa nyata yang sudah hingga sedang berlangsung, tinggal kategori waktunya mana yang digunakan. Kirik tidak mengingkari bagaimana pentingnya riset walau sederhana. "Riset yang dilakukan nantinya akan membantu dalam pembuatan konsep cerita hingga naik menjadi skenario dan masuk sebagai panduan penting pada story board. Di workshop ini memang masih sangat sederhana, hanya untuk mengatakan bahwa bagaimana riset itu memberikan kontribusi dalam sebuah film dokumenter dan mampu memberikan perspektif berbeda dalam setiap tema yang ingin diangkat," ucap pria yang kesehariannya dalam ditemui di Nandan.
Materi yang terdapat dalam film dokumenter memang semuanya berusaha mengatakan fakta-fakta yang terjadi secara nyata, karena merupakan film kisah nyata. Namun tidak bisa dipungkiri pula bahwa beberapa poin seperti sikap dan keinginan sutradara untuk membuat film dokumenter tersebut menjadi lebih hidup bisa saja masuk dalam pembuatannya dan membuat agak kabur dari realitas yang didapat dari riset sebelumnya. Tapi ada suatu kesamaan pendapat yang diungkapkan oleh para pembuat film dokumenter adalah inti dari film tersebut terletak pada keotentikan dan personalitas dalam relasi-relasi setiap peristiwa yang terjadi, tentunya disertai dengan penafsiran lebih lanjut.



Kirim Komentar