Mengesampingkan Keindahan demi Makna Simbolik ala "Sabtu Siang"
KARYA-KARYA SANGGAR LUKIS SABTU SIANG secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok dan memegang suatu harmonisasi yang tertata rapi dalam ruang pameran. Karya sebanyak 80 lebih yang disajikan oleh 27 pelukis masih terus berlangsung hingga Jumat (7/5) mendatang di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Untuk melonggarkan segala macam yang selama ini menyumbat dan menyesakkan ternyata mampu membuat mereka menjadi lebih eksis dalam dunia seni lukis.
Kelompok pertama menampilkan karya-karya yang menggambarkan para begundal kelasatas. Kedua, para begundal kelas kere akibat jeratan kehidupan dan kelompok ketiga lebih banyak mengobservasi simbol-simbol yang menampik kekeringan estetika. Ambil contoh, Lukisan Yundhi Pra "Tragedi 2004" (2004) mengungkapkan orang-orang yang begitu mabuk untuk memiliki kursi yang nyaman. "Orang-orang begitu sibuk dengan segala macam usaha dalam memperoleh kursi," tukasnya. Begitu pula dengan Sriyadi "Awas...Banteng...." (2004) menampilkan sifat kekanak-kanakan masyarakat yang diwujudkan dengan wajah anak-anak yang ketakutan ketika diseruduk sekelompok banteng yang merasa hutan tempat mereka hidup diusik oleh makhluk lain.
Karya Adi Taruno "Time To Say Good Bye" (2004), mencoba mengingatkan masyarakat mengenai hakikat hidup yang sesungguhnya. "Ketika malam sepi mencekam, detak jam dinding begitu jelas terdengar, perjanjian waktu kembali kepadaNya telah tiba. Malaikat Maut pun sudah siap menjemputnya," tukas Adi. Masih dengan ide yang sejalan dengan ketiga lukisan tersebut adalah karya Triandi Kamaeruzzaman dengan "Terkapar" (2004). "Karya ini menggambarkan hewan yang dikenal sebagai pemilik tenaga ekstra, terkapar karena kapasitas pekerjaan yang melebihi kemampuannya. Suatu penggambaran keinginan di luar batas qodariyah, sehingga ketika mereka dihajar oleh tumpukan beban hanya menghasilkan akibat yang mematikan," terang Triandi yang juga merangkap koordinator pameran lukis tahun ini.
Penggarapan realis yang sesuai denga dunia anak, bisa ditemukan dalam lukisan yang berjudul "9 tahun", sedangkan dalam lukisan "Where`s My Future" lebih bersifat simbolik dengan mengetengahkan dedaunan khas daerah tertentu, pagar obyek diwujudkan secara simbolik dengan puntung rokok dan pilihan angka. Sedangkan lukisan-lukisan yang merupakan eksplorasi simbolis seperti "Penggambaran Jiwa", "Jagawana", "Pasar Ikan", "Tokoh Pendidikan", "Duta Ikan" dan "Sun Flower" lebih melirik pada pengembangan material dan pendalaman pengalaman estetika memungkinkan lahirnya karya-karya inovatif.
Lukisan yang berkutat dengan makna, simbol, isyarat, ibarat atau kepedulian terhadap masalah sosial, tanpa mempedulikan lagi sisi keindahan yang menjadi tugas seniman yang sesungguhnya. Dunia moderen memang penuh kejutan dan ketegangan yang dalam waktu singkat terus menerus mengguncang hati masyarakat untuk tidak dapat membuat keadaan semakin nyaman saja. Dalam keadaan serupa tersebut, generasi muda dalam menciptakan karya-karya seni tidak semata-mata terdorong oleh keindahan semata, namun pada kejutan-kejutan yang dialami oleh seniman langsung.



Kirim Komentar