Operet "Shoes For Alissa" Mengisahkan Kekuatan Mimpi
TINGKAH POLAH ANAK TERGAMBAR LUGU DALAM OPERET "SHOES FOR ALISSA" yang di gelar di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta pada Sabtu, 8 Mei 2004. Acara yang sempat mundur 30 menit dari waktu yang dijadwalkan ini menampilkan puluhan anak berusia Sekolah Dasar dari berbagai sekolah di Yogyakarta. Pada hari sebelumnya, mereka telah mengadakan special performance untuk para sponsor dan orangtua para pemain. Dengan tiket yang terbilang mahal seharga 35.000, 50.000, dan 75.000,- pertunjukan ini sebenarnya dikemas sebagai malam amal yang akan disumbangkan pada penderita kanker.
Pentas operet ini bercerita tentang seorang gadis berusia 10 tahun bernama Alissa yang menderita cacat pada kakinya sejak lahir. Ia tidak bisa berjalan dengan sempurna dan harus menggunakan tongkat penyangga. Suatu hari ia melihat teman-temannya berlatih tari untuk sebuah persiapan lomba. Alissa memendam keinginan untuk dapat menari juga bersama teman-temannya. Diam-diam ia menonton teman-temannya berlatih dan Pak Budi, sang pelatih menyemangati Alissa bahwa ia pun bisa menari dengan hati dan sambil duduk.
Impian untuk menari terus berada di pikirannya hingga ia menemukan sebuah sepatu balet milik neneknya berwarna merah jambu di gudang rumahnya. Sepatu milik nenek itu adalah kenang-kenangan dari sebuah relasi nenek di Perancis ketika sang nenek menari di negara itu. Berkat dorongan dari lingkungan dan semangat yang kuat untuk terus menari akhirnya Alissa mulai dapat menerima dirinya dan menjadi seorang koreografer untuk teman-temannya. Bahkan SD Nuansa berhasil memenangkan lomba Tari tingkat SD saat itu berkat bimbingan Alissa. Tokoh Alissa diperankan dengan sangat natural oleh Kinanti Sekar Rahina seorang putri pantomimer Jemek Supardi yang kerap kali pula mendukung beberapa film indie garapan sineas Yogyakarta.
Skenario operet ini ditulis oleh Yuliana Fitri dan Wahyu Bramastyo dengan menyelingi beberapa lagu seperti Ku Tak Tahu Apa? A Hope in Simple Dance, Aku dan Pagi, dan Menarilah. Acara yang diselenggarakan oleh Nuansa Creative dan Natural School ini merupakan event yang diadakan oleh Keluarga Muslim Psikologi Fakultas Psikologi UGM.
Berproses selama 5 bulan, operet ini memberi pelajaran untuk mengenal kekuatan sebuah impian untuk berani mewujudkannya. Gedung berkapasitas 300 orang itu dipadati oleh penonton yang ingin menyaksikan operet ini. Tak hanya para mahasiswa tetapi tampak pula beberapa keluarga muda dengan anak berusia SD yang khusus meluangkan waktu menonton pertunjukan ini.



Kirim Komentar