Kebersamaan Menjaga Yogyakarta dalam "Jogjaku Resik"
SELURUH MASYARAKAT YOGYAKARTA DIHARAPKAN SEMAKIN SOLID untuk tetap menjaga kota budaya ini dalam keadaan bersih, baik fisik maupun rohani, seperti yang diungkapkan oleh KRTM Indro `Kimplink` Suseno kepada wartawan Rabu (12/05) bahwa realisasi program Jogjaku Resik akan segera diresmikan dan diterapkan dalam tiga tahap. "Dua bagian pertama akan melibatkan karyawan Pemerintah Kota dan masyarakat luas, sedangkan tahap ketiga melibatkan kurang lebih 10.000 siswa mulai dari SD hingga SMU," jelasnya.
Lebih lanjut Kimplik mengatakan bahwa Yogyakarta bisa menciptakan kotanya dalam suasana yang sejuk dan asri yang tidak hanya terjadi dalam masa lalu saja, namun sekarang bisa dilakukan secara bersama. Jadwal "Jogjaku Resik" tahap pertama dan kedua dilaksanakan pada 30 Mei 2004 mulai pukul 07.00 - 10.00 WIB. "Pengerahan pelajar akan ditepatkan pada hari lingkungan hidup yang juga merupakan hari lahirnya Bung Karno," ucapnya.
Dalam sebuah pertemuan ramah tamah Pemerintah Kota di halaman Balaikota, beberapa waktu sebelumnya, yang dihadiri oleh Kimplink selaku Ketua Umum Program Jogjaku Resik, Cak Nun dan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, timbul diskusi ringan yang banyak menguak masalah dan uneg-uneg yang terjadi di sekitar Yogyakarta.
"Kenapa anak muda, mereka menjadi suatu roh. Jika sesama mereka saling menegur dan menyapa pasti tidak marah. Apa jadinya jika dengan orang tua, pasti suasana dan kecairannya berbeda," ungkap Herry ketika dilontarkan kekuatan anak muda dalam keterlibatan pada Jogjaku Resik. Cak Nun nyeletuk bahwa masa depan negara ini bukan warisan orang tua kepada anak, tapi milik anak yang harus dijaga orang tua, yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan dari hadirin.
Herry menambahkan, bersih itu multidimensi dan dapat berupa bersih fisik, pikiran, moral serta hati. "Kota Yogyakarta untuk orang yang mencintai kotanya. Saya harap rasa cinta benar-benar akan diwujudkan oleh seluruh masyarakat Kota Yogyakarta dengan berbagai komponen, seluruh golongan, agama dan berbagai pekerjaan. Marilah kita cintai Yogyakarta ini dengan cara kita berperan dengan apa yan bisa kita perankan," ungkap Herry.
Pada 6 Juni 2004 mendatang, gerakan pelajar yang berjumlah kurang lebih 10.000 dari SD hingga SMA dapat menjadi pelopor kebersihan kota Yogyakarta. "Gerakan diwujudkan secara nyata dalam kebersihan yang dilandasi dengan kesadaran budaya bersih masyarakat kota Yogyakarta untuk Yogyakarta sendiri," tambah Herry.



Kirim Komentar