Drama Realis "Lampor" Potret Kehidupan Kaum Marginal
MENGANGKAT POTRET KEHIDUPAN KAUM MARGINAL ke atas panggung yang cenderung dengan idiologi kekerasan serta konflik-konflik yang selalu mewarnai kehidupan, menjadi pilihan Teater Tujuh Gerbang dalam pementasan teater ke-empat dengan tema "Lampor" (15/5) pukul 20.00 WIB di Aula Timur STIMIK AKAKOM Yogyakarta. Selama 1 jam, penonton tampak antusias menyaksikan pementasan teater realis "Lampor" ini yang disadur dari cerita pendek karya Joni Aryadinata, yang kemudian dibuat naskah oleh Raudal Tanjung Banua.
Karya besar "Lampor" ini, kemudian oleh sutradara Dwi Arti H / Teng ditranformasikan dengan cukup apik ke dalam bentuk visualisasi panggung teater. Cerita "Lampor" yang juga termasuk cerpen terbaik pilihan Kompas pada tahun 1994 ini, menceritakan tentang sebuah perkampungan pinggir kali yang dihuni oleh orang dengan berbagai profesi pemulung, pengemis, pelacur, pencopet, pemabuk yang dianggap "tidak sah" pada masa itu.
Sebuah masyarakat yang memiliki dunia sendiri, dunia masyarakat pinggiran yang penuh dengan trik dan intrik dalam mempertahankan kehidupan masing-masing. Sebuah lingkungan yang memiliki magnet yang mampu mempengaruhi titik-titik terawan kehidupan sosial orang-orang yang tinggal didalamnya, termasuk kehidupan keluarga Abah Marsum (Eri Wahyudi).
Abah Marsum adalah seorang tukang akik yang mempunyai hobi mengotak-atik nomor butut. Dia menikah dengan seorang wanita yang diperankan Ike Cemploek, yang mempunyai hobi yang sama dan menghasilkan tiga orang anak Tito (Deddy Vita), Rohanah (Tri Kusuma) dan Rois (Heri Budianto) yang melihat lampor (bola api). Biaya hidup yang semakin naik banyak memicu konflik-konflik kecil dalam kehidupan masyarakat yang cuek dan tidak mau tahu menambah semaraknya keseharian keluarga ini. Banyak upaya untuk merubah nasib, untuk memenuhi keinginan dan harapan. Namun semua keinginan dan harapan itu hanya berakhir di tempat tidur, seperti yang dilakukan oleh Rohanah dan Tito.
Pementasan "Lampor" ini, menurut penulis naskah yang hadir malam itu, ingin mengangkat masalah kesenjangan sosial, realitas masyarakat pinggiran, realisme sosial dengan berbagai kritik tajam. Namun berbeda dengan Teng, ketika ditemui GudegNet, mengatakan bahwa ia cenderung mengangkat Lampornya. Lampor merupakan mitos orang Jawa yaitu bola api yang muncul di atas sungai, yang mempunyai tanda adanya malapetaka, yang terjadi di keluarga Abah Marsum tadi. Namun Teng menambahkan bahwa lampor ini dikembalikan ke penonton, mau percaya atau tidak dengan mitos tersebut.
Alasan tersendiri bagi Teng untuk mengangkat cerita ini, karena baginya cerita dalam "Lampor" ini merupakan bagian dari pengalamannya yang pernah hidup di pinggiran dengan masyarakat kecil, selain itu ia juga pernah memainkannya sebagai tokoh Rohana di teater ISI Yogyakarta. "Lampor" yang diproduksi selama tiga bulan ini merupakan pengalam pertamanya menyutradarai pementasan.
Bagi sutradara pementasan kali ini sangat memuaskan karena diterima oleh penonton dengan cukup baik. Beberapa adegan yang ia anggap susah diterima ternyata sampai dipahami oleh penonton. Karena menurutnya drama ini merupakan drama realis yang kadang susah atau salah dimaknai penonton. Namun sambutan hangat penonton yang memenuhi aula ini tampak apresiatif dan menikmati pergelaran hingga selesai. Yang menarik pada waktu itu hadir para pemulung yang sengaja diundang.



Kirim Komentar