Seni Awang-awang untuk Pelestarian Seni Arstitektur Jawa
RUMAH, BAGI ORANG JAWA ZAMAN DULU, BUKAN SEKEDAR TEMPAT berlindung dan bernaung dari hujan dan panas. Rumah bagi mereka adalah sebuah hasil dari kreasi budaya adiluhung yang menjadi suatu karya seni tersendiri nan indah. Tak heran bila kemudian seni arsitektur Jawa sangat kaya dan bernilai seni tinggi. Tak hanya bentuk rumah tradisional Jawa sendiri yang beragam seperti joglo, limasan, dara gepak, klabang nyander, panggang pepe dan sebagainya, namun juga perabotan dan hiasan-hiasan yang menempel pada rumah tersebut yang sangat banyak jenisnya.
Sayangnya, ada satu hiasan rumah yang saat ini terabaikani karena tergusur oleh modernisasi, yakni model mustika atau wuwungan sebagai hiasan di atap-atap rumah. Rumah atau masjid yang pada zaman dulu selalu dihiasi dengan berbagai bentuk kreasi wuwungan yang terbuat dari terakota (gerabah) ataupun seng, sekarang ini sudah jarang kita jumpai lagi karena telah tergantikan rumah berlantai dua dengan gaya arsitektur Barat. Hanya di beberapa daerah saja seperti di Kulon Progo, Ngemplak, Boyolali, Jepara, Kebumen dan lainnya kita masih bisa melihat wuwungan yang menempel indah di atap rumah-rumah mereka. Alhasil, wuwungan sekarang ini menjadi barang antik yang susah dicari.
Langkanya salah satu karya seni yang tak ternilai harganya tersebut menurut kurator Bentara Budaya Yogyakarta, Hermanu karena wawasan dan pengertian untuk menghargai peninggalan masa lalu yang masih rendah dari pemerintah dan masyarakat kita. Karena itulah selama sepuluh hari ini (15-25/05), Bentara Budaya menggelar pameran seni arsitektur Jawa lama dengan tajuk "Seni Awang-awang" yang berarti seni langit. Disebut seni langit karena tempat diletakkannya wuwungan di atap rumah yang menjulang dan berlatar belakang langit. Fungsi awal wuwungan sebagai tutup atap rumah agar tidak ada hujan ataupun debu yang masuk lewat atap pada perkembangannya menjadi aksesoris tersendiri yang kian mempercantik rumah.
Sekitar 60-an jenis wuwungan dari bahan terakota (gerabah) dan seng dengan berbagai ukuran dan bentuk seperti burung garuda,gunungan wayang kulit, naga, monyet, harimau dan sebagainya tertata rapi di ruangan sejuk ber-AC Bentara Budaya. Wuwungan yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta seperti, Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul Kedu, Boyolali, Jepara, Kebumen dan Wonogiri tersebut dikumpulkan Hermanu dkk sejak tahun 1986 ketika mereka berkeliling Jawa Tengah.
Diharapkan Hermanu, pameran kali ini dapat menjadi himbauan kepada para pemilik rumah dan pemerintah kita untuk tetap melestarikan rumah-rumah tradisonal agar tidak terancam punah, mengingat bahwa seni arsitektur rumah tradisional kita begitu indah dan merupakan hasil budaya yang bernilai tinggi yang tak kalah dengan seni arsitektur barat. "Maka selamatkanlah bangunan-bangunan tradisonal kita untuk kebanggaan anak cucu kita nanti," seru Hermanu.



Kirim Komentar