Kampanye Kepedulian Hati Nurani "Jogjaku Bersih"
YOGYAKARTA, SEBAGAI KOTA TUJUAN DENGAN BERBAGAI PREDIKAT, seperti misalnya wisata, kota pendidikan, budaya, seni dan berbagai predikat lainnya, sudah saatnya untuk mewujudkan kebersihan yang nyata di berbagai sektor. Permasalahan kebersihan masih cukup melekat pada kota yang sedang tumbuh dan berkemban ini. Namun, kebersihan sudah harus menjadi sesuatu yang melekat pada sikap, pola pikir dan perilaku setiap masyarakat warga Kota Yogyakarta, baik penduduk asli maupun pendatang. Peringatan Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2004 mendatang sudah selayaknya dilakukan dengan gerakan seluruh warga masyarakatnya secara nyata.
"Kalau kita merasakan Jogja sebagai tanah air kita, tempat hidup, tempat mencari nafkah, berjodoh, berkarir, rejeki, belajar dan mencari ilmu, jika mendengar "Jogjaku Bersih" maka sudah sepantasnya menyambut dengan baik. Tanah air kita butuh dirawat juga," tukas KRMT Indro `Kimpling` Suseno SH Ketua Pelaksana Jogjaku Bersih saat ditemui GudegNet Rabu (19/5) siang.
Kegiatan tahun 2003 "Jogja The Resik City" ternyata merupakan rangkaian acara yang terdapat dalam program Jogjaku Bersih. Dari 30 Mei - 6 Juni 2004, kegiatan kebersihan bersama dibagi dalam beberapa kelompok. Pada akhir kegiatan (06/06), akan ada pemilihan PELOPOR JOGJAKU sebanyak 10.000 siswa dari SD & MI (235 sekolah) kelas 3, 4 dan 5 dengan jumlah 15.000 siswa. "Untuk SMP & MTs (66 sekolah) pada kelas 1 dan 2 sejumlah 18.000 siswa yang ada. Tugas yang diemban oleh para pelopor Jogjaku Bersih lebih sebagai kader generasi penerus yang mempunyai tingkat kepedulian kebersihan yang tinggi," lanjut Kimpling.
Sedangkan upacara Jogjaku Bersih menempati 9 titik, antara lain Stadiun Mandala Krida, Lapangan Minggiran (SMP 13), Alun-Alun Utara, SD Pujokusuman, Lapangan Karang, Parkir Ngabean, Lapangan Mancasan, Lapangan STM Jetis dan SMAN 4 Karangwaru. Upacaranya hanya selama 2 jam dan langsung dilanjutkan dengan gerakan "Bersih Jogja Bersama" yang diikuti oleh warga, komponen, kelompok usaha hingga seluruh siswa sekolah yang ada di Yogyakarta.
Ketika ditanya mengenai target nyata yang hendak dicapai oleh panitia, Kimpling mengungkapkan bahwa bukan kuantitas yang menjadi perhatian utama, namun lebih pada usaha menyentuh kepedulian hati nurani masyarakat pada kecintaan akan kota Yogyakarta.



Kirim Komentar