Tragedi Mei 1998 dari Kacamata Fadli Zon - Saksi Mata

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

HURU-HARA MEI 1998 YANG MEMINTA KORBAN MAHASISWA TRISAKTI JAKARTA ternyata masih berbuntut hingga sekarang dengan keterangan Jendral Wiranto dalam bukunya yang berjudul "Dari Catatan Wiranto : Bersaksi Di Tengah Badai" terbitan Institute for Democracy of Indonesia, April 2003 lalu yang menyebutkan tragedi berdarah tersebut dari kacamatanya sendiri mendapat pertentangan dari beberapa pihak. Dalam buku yang menyinggung soal rivalitas dirinya dengan Prabowo tersebut, menurut Fadli Zon, SS.Msc, seorang saksi mata pada peristiwa tersebut, Wiranto banyak menulis data-data yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan serta tidak berimbang karena memuat informasi-informasi yang berat sebelah.

Persoalan tersebut akhirnya membuat Fadli "gatal" untuk mengungkap kebenaran dengan menulis buku lain untuk mengoreksi data-data yang dibuat Wiranto dengan judul "Politik Huru-hara Mei 1998". "Saya sebagai saksi mata dan berada di tengah putaran badai ketika peristiwa Mei, tidak ingin peristiwa bersejarah tersebut dijadikan propaganda pribadi," papar direktur Institute for Policy Studies tersebut dalam pengantarnya pada diskusi bukunya di UC UGM Bulaksumur, Selasa (18/5). Tujuan diterbitkannya buku tersebut menurutnya adalah sebagai koreksi buku Wiranto sehingga tidak tejadi penyimpangan sejarah di kemudian hari karena ia tidak ingin anak cucunya kelak akan membaca sejarah yang salah, yakni sejarah yang dibuat seorang jendral yang menang.

Untuk melengkapi data-data akurat dalam pembuatan buku yang juga diterbitkan oleh Institute for Policy Studies tersebut, Fadli mewawancarai orang-orang yang tahu betul mengenai kejadian-kejadian seputar huru-hara Mei 1998. Dengan kombinasi pengalaman-pengalaman dan kesaksian pribadi, ditambah riset di tengah kesibukan sehari-hari, maka lahirlah buku ini," akunya.

Lewat diskusi buku yang kedua ini (diskusi pertama dilaksanakan di Jakarta-red) yang juga dihadiri pengamat politik militer Kivlan Zan, dan Muwafiq dari KAMMI serta para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tersebut, diharapkan Fadli dapat menjadi pembanding dan pengembangan diskusi-diskusi yang lebih terbuka dan jujur tentang inisiden Trisakti dan huru-hara Mei 1998. Contohnya lewat argumentasi Wiranto dalam bukunya yang menyebutkan bahwa tragedi Mei 1998 karena ulah kebrutalan mahasiswa yang keluar kampus yang mengakibatkan suasan anarkis, brutal dan tidak bertanggung jawab. peristiwa tersebut menurunya hanya sebagai ekses yang tak terelakkan dari sebuh proses demokrasi, dan bukan sebagai tragedi atau pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM).

Hal tersebut ternyata berbeda dengan kenyataan yang ada pada waktu itu, di mana mahasiswa yang turun ke jalan sedang menjalankan tugas konstitusionalnya sebagai warga negara untuk menyatakan pendapat dan sikap bagi perbaikan bangsa. "Tidak ada kebrutalan seperti yang digambarkan Wiranto. Mereka ditembaki ketika berjalan kembali menuju ke dalam kampus," jelasnya. Yang benar adalah justru polisilah yang saat itu brutal menembaki mahasiswa seperti sedang melampiaskan dendam. Karena itulah menurut Fadli, analogi Wiranto tidak benar adanya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini