Wuwungan dan Keindahan Atap Rumah Jawa
ADA SEBUAH GUGON TUHON ATAU LEGENDA JAWA, terutama di daerah Pati dan sekitarnya yang menyebutkan bahwa bila tidak ingin rumah mereka terkena kilatan petir maka harus dipasang wuwungan atau hiasan rumah yang diletakkan pada genteng teratas atap rumah yang menempel pada penuwun (balok kayu di bagian atas rumah -red.) untuk menangkal petir. Karena itulah, sampai sekarang di daerah yang frekuensi petirnya paling tinggi di Jawa tersebut masih banyak dijumpai rumah-rumah penduduk berhias wuwungan yang ditempeli pecahan piring porselin yang indah.
Namun sayang, keindahan wuwungan yang menempel serasi dengan berbagai bentuk atap rumah rumah tradisional Jawa yang berlatar belakang langit tak banyak kita lihat lagi di daerah-daerah lain, terutama di perkotaan yang bentuk rumahnya sendiri sudah berkiblat dengan gaya arsitektur Eropa ataupun mediteranian. Begitupun dengan bentuk-bentuk wuwungan berbahan terakota (gerabah) dan seng seperti yang dipamerkan di Bentara Budaya, Jl Suroto 2 Kotabaru dalam "Pameran Seni Awang-awang" hingga Selasa depan (25/5) dengan bermacam bentuk seperti garuda, naga, gunungan wayang dan sebagainya yang menjadi koleksi para kolektor barang-barang antik tersebut pastilah jarang kita jumpai juga di kota ini.
Padahal di kabupaten lainnya seperti di Kulon Progo masih banyak kita jumpai wuwungan khas daerah tersebut, yakni pipih dan bukannya tiga dimensi seperti halnya wuwungan di daerah lain dengan hiasan berbentuk naga, burung merpati dan garuda Jawa atau ayam serta gunungan wayang. Di Tepus, Gunung Kidul-pun hampir setiap rumahnya memasang wuwungan berhias ukiran seng. Wajiono, Kepala Dukuh II di desa tersebut adalah salah satu pembuatnya. Begitupun dengan wuwungan di daerah Pajangan, Bantul yang berukuran cukup berat, yakni 30 X 30 sentimeter . Walau sekarang sudah jarang dijumpai, namun dulunya wuwungan berbentuk naga yang distilir sedemikian rupa menjadi naga yang naif karena ditunggangi sesosok perempuan menjadi primadona para pemburu barang antik.
Tidak jauh berbeda dengan bentuk wuwungan di wilayah pedesaan Jogja, di daerah Prembun, Kebumen bentuk gunungan yang diapit badong yang dipasang di tengah-tengah atap rumah joglo atau kampung masih bisa kita jumpai. Menurut keterangan kurator Bentara Budaya Yogyakarta, Hermanu yang beberapa tahun silam mengunjungi kota itu adalah pembuatnya seorang mantan veteran perang RI yang berumur 85 tahun bernama Darsono. Ia membuat badong sekitar tahun 1950-an sejak ia muda. Sayangnya dengan bertambahnya umur, ia menghentikan kegiatannya tersebut sejak dua tahun lalu.
Sementara pembuat wuwungan yang masih terus menghasilkan karya-karyanya adalah Tukimin, seorang mantan sopir truk tangki minyak di daerah Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri. Berkiblat dari daerah Manyaran yang merupakan sentra pembuat wayang kulit untuk wilayah Jawa Tengah, maka bentuk wuwungan di daerah tersebut banyak yang disesuaikan dengan figur wayang seperti Semar, Kresna, Gatotkaca, dan Gunungan. Pemesannya sendiri adalah masyarakat sekitar yang setiap bulannya seringkali mengganti wuwungan yang rusak atau belum mempunyainya. Pemasangannya sendiri harus dengan beberapa syarat, yakni pemberian sesajen dan sambang tuwuh.



Kirim Komentar