Menggugah Kembali Tradisi Kreatif Berteater Dalam Diskusi “Nasib Teater Kita”
Ada anggapan bahwa kondisi teater di Indonesia saat ini "Jalan di tempat", hal ini tidak lepas dari kenyataan, ekspresi berteater saat ini sudah semakin jarang di pentaskan di panggung-panggung pertunjukan. Kalaupun ada pementasan umumnya masih sebatas studi pentas sekaligus upaya untuk merekrut anggota baru.
Mencoba merespon kondisi teater yang bisa disebut sebagai "Jalan di tempat" tersebut, Rumah Budaya Tembi dan Dewan Kebudayaan Bantul, semalam (25/5) menyelenggarakan satu diskusi bertema "Nasib Teater Kita" dengan sub tema "Menggugah Tradisi Kreatif Berteater".
Diskusi yang digelar di Rumah Budaya Tembi Jl. Parangtritis Km. 8,4 Bantul Yogyakarta ini, menghadirkan tiga pembicara yaitu, Genthong Hariono Selo Ali (Teaterawan Senior), Yudi Ahmad Tajuddin (Teater Garasi), serta Halim HD (Pekerja Jaringan Budaya, Solo), dengan Moderator Indra Tranggono (Pengamat Budaya).
Diskusi yang dihadiri oleh teaterawan-teaterawan Jogja tersebut, mengangkat persoalan-persoalan diantaranya yang pertama, benarkah proses kreatif teater di Jogja saat ini mandeg (Berhenti-red), kedua dalam dialog tersebut akan menguji satu tesis yang mengatakan bahwa teater di Jogja saat ini jalan di tempat alias Involusi.
Involusi tersebut adalah istilah yang khas dipakai oleh Umar Khayam di dalam melihat satu kondisi teater yang berjalan di tempat. Berjalan di tempat karena tidak ada satu tawaran yang lebih segar, yang lebih memberikan harapan alias begitu-begitu saja. Teater di Jogja memang agak susah untuk dikatakan sangat dinamis, namun tidak bisa juga dikatakan mati sepertinya ada satu proses yang mungkin sedang membeku dalam tanda petik di dunia teater Jogja.
Dari pemikiran-pemikiran ketiga pembicara dalam diskusi malam itu, dapat kita timba, ada tiga hal yang dapat dikutip dari pendapat Yudi bahwa, yang pertama sudah bukan saatnya teater awal itu mempertentangkan antara nilai yang dilakukan dengan pragmatisme kapitalistik. Sebab mau tidak mau sejahterawan adalah bagian dari masyarakat yang secara otomatis hidup dalam alam seperti itu. Yang kedua yaitu, perlunya strukturisasi pengetahuan teater yang menjadi satu hal yang mendasar, kemudian yang ketiga adalah bagaimana setiap pengetahuan tersebut dirumuskan menjadi satu teks yang terbuka yang dapat dipelajari dan itu bisa memperkaya proses kreatif berteater.
Pemikiran Genthong dalam diskusi tersebut, menyinggung tentang pentingnya basis sosial teater sebagai prasyarat untuk terciptanya tradisi kreatif. Kemudian Halim memberikan catatan pendapat Yudi, bahawa teater Jogja saat ini memang lemah dalam riset, akibatnya tidak ada satu bangunan atau struktur pengetahuan yang kontinue dalam pertumbuhannya di Indonesia.
Dan ini merupakan satu pengamatan yang berangkat dari satu penjelajahan dimana Halim hadir di berbagai kota dan melihat persis bagaimana kota sebagai satu ruang sosial, ruang budaya, ruang politik, maupun ruang secara geografis ternyata menimbulkan problem yang serius terhadap dunia teater itu sendiri.
Bagaimana Jogja tidak ada keterkaitan antara Lembaga bernama ISI yang mempunyai lembaga penelitian terhadap kaitannya dunia teater yang miskin referensi. Artinya disini Halim mencoba membangun sinergi bagaimana dikota itu berbagai lembaga bisa menciptakan satu kerjasama yang baik.
Diharapkan dengan Forum diskusi ini dapat menggugah kembali tradisi kreatif berteater, sekaligus memperbincangkan nasib teater dimasa mendatang khususnya di kawasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta



Kirim Komentar