Penyelenggraan Emo Diaries Chapter One Kurang Maksimal

Oleh : Aqidah / Senin, 00 0000 00:00



Upaya mengenalkan musik Emo yang tidak digarap dengan maksimal oleh Dead Poet`s Society terlihat dalam acara yang bertajuk Emo Diaries Chapter One: New Beginning pada Senin 24 mei 2004 lalu. Penampilan yang tidak maksimal itu terlihat pada awal pertunjukan. Dari tiga lagu yang rata-rata dibawakan setiap grup yang tampil, tak membuahkan antusiasme bagi penontonnya. Padahal acara yang sedianya digelar mulai pukul 14.00 WIB hingga 23.00 WIB ini menampilkan sedikitnya 18 grup. Mic sebelah kanan diatas stage tidak berfungsi sehingga suara sang vokalis timbul tenggelam diantara sound yang memang cadas itu. Beberapa panitia yang ditemui Gudegnet menyatakan dengan malu-malu bahwa acara ini sebenarnya hanya untuk ajang kumpul komunitas mereka dan mereka cukup spekulatif untuk mengadakan acara ini secara reguler.

Dengan Tiket seharga Rp. 4.000,- ini penonton dengan bebas dapat menyaksikan musik Emo ini dari sore hingga malam hari. Tak hanya dari Yogyakarta, 4 grup datang dari luar kota, seperti Love Hate Love (Jakarta), Bit-Rate-24 (Jakarta), Nothing Last Forever (Semarang), dan Rain Will Fall (Semarang). Sayang sekali berulang-kali penonton harus terpaksa menunggu agak lama karena jeda setiap pergantian untuk tampil tampaknya tidak disepakati melalui pembuatan rundown acara yang baik. Dika dan Kesong yang bertugas sebagai MC pada pertunjukan ini tak mampu pula menghidupkan aura Emo.

Musik Emo sendiri sebenarnya telah hadir di Amerika yang kemudian merembet ke Eropa sejak tahun 1980. Dengan aliran yang kini dikenal dengan hardcore / punk-rock, kini berimbas dengan modernitas beberapa generasi yang mempunyai pemikiran idealis tersendiri dalam wacana musikalitasnya menyebutnya sebagai aliran Emo. Yang berbeda dari Emo adalah komposisi musik yang lebih melodies dan penjiwaan dalam pembawaannya. Biasanya tak segan-segan sambil bernyanyi mereka juga berteriak, menangis, menjatuhkan diri, dan howling. Setelah berkembang mengikuti jamannya Emo kemudian terbagi lagi menjadi sub genre lain yang banyak disebut sebagai Emo-core, Hardcore-emo, Post-emo indie rock, Emo violence, Emo-punk, dan Screaming Emo.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini