Barcode, Dehimanusasi hingga Imbas Bagi Seniman
Penentuan tema kurasi sebagai intelectual frame work akan ditempatkan sebagai kerangka dasar untuk menjadi titik pijak bagi proses penciptaan karya sekaligus penentuan perupa yang akan terlibat didalamnya. Secara mendasar berarti kurasi diharapkan akan terimplementasi dengan baik pada setiap karya rupa yang akan masuk dan ini akan dipatuhi secara ketat dalam proses seleksi. Namun demikian, untuk perhelatan pameran seni rupa Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2004, pihak penyelenggara akan mengundang secara khusus seniman yang diasumsikan secara kuat mampu mengimplementasikan gagasan kuratorial.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kus Indarto Koordinator Pameran Seni Rupa FKY 2004 saat dihubungi GudegNet Rabu (25/5) malam. "Barcode" menjadi tema kurasi untuk pameran seni rupa FKY. Barcode sendiri merupakan sebuah kode atau penanda atas produk dalam dunia industri yang berwujud garis-garis vertikal dengan variasi spasi dan ketebalan. "Citraan sebuah barcode berbeda atau satu sama lain berdasarkan angka-angka pembentuk yang disusun secara Computerized. Dalam sistem industri yang membutuhkan percepatan produksi atas barang-barang homogen, keberadaan barcode sangat penting untuk menjadikannya sebagai sistem kontrol disamping penanda," tukasnya.
Pada aspek kendurnya nilai-nilai kemanusiaan inilah sebenarnya tema barcode akan mencoba beroperasi. Seniman juga diasumsikan sebagai homo socius diajak untuk mempersuasi perihal dehumanisasi tersebut dengan segenap perspektifnya yang akan diurai dalam karya rupa. Seniman diharapkan akan bergerak dengan tangan keratif dan sensibilitas nuraninya untuk mengamati, menimbang, mengomentari atau menganalisis kuatnya gejala manusia yang hanya dianggap robot, atau angka-angka tanpa nyawa. Barcode merupakan titik awal, sebuah istilah yang diharapkan akan diterjemahkan dalam karya rupa secara bebas dan tidak verbalistik.
"FKY lama-lama jadi pameran gado-gado atau rombongan yang tidak jelas arahnya. Jika terlalu banyak karya atau orang yang berpameran, masyarakat tidak akan mampu menikmatinya sehingga menjadi jenuh. Makanya perlu ada kontrol produk," lanjutnya. Sehingga Kus Indarto hanya membatasi karya dalam pameran tersebut sebanyak 75 buah. Dalam pengumpulan karya tersebut dibagi menjadi dua bagian. "Pertama adalah karya-karya seniman yang kami undang khusus dari kurator yang bertumpu pada keadaan obyektif atas kenyataan peta seni rupa terakhir. Kedua berupa seleksi berdasarkan kualitas yang diasumsikan secara kuat mampu mengimplemantasikan gagasan kuratorial," tukasnya.
Pola ini jelas akan menimbulkan plus-minus. Kelebihannya, pameran yang berdasarkan bingkai kurasi akan memiliki alur gagasan yang jelas dan tegtas. Seniman dengan karya tertentunya yang terlibat adalah mereka yang relatif mampu mengikuti alur gagasan yang sejalan dengan tema kuratorial. "Makanya pameran ini akan diasumsikan memiliki gagasan yang terarah, bukan pameran `pasar malam` dengan ide dasar yang bercampur-aduk. Sisi lemahnya, niscaya pameran akan relatif kurang beragam dibandingkan dengan tradisi FKY sebelumnya. Pluralitas komponen kepesertaan yang didasarkan oleh golongan usia, generasi, komunitas, latar belakang pendidikan, asal hingga yang bernilai komperehensif diduga tidak akan muncul pada pola ini," imbuhnya.
Bagi Kus, pameran kali ini lebih pada soal kemauan dalam memilih. Memunculkan bingkai kurasi yang tegas dan jelas berikut manifestasinya dalam karya-karya yang memiliki pencapaian artistik, estetik dan kecerdasan tinggi merupakan pilihan sikap yang harus dilakoni. "Dibandingkan dengan tetap memilih meneruskan tradisi `nguri-nguri` kebersamaan dan memunculkan `kaderisasi` perupa baru. Maka pilihan dengan mengangkat tema khusus adalah pilihan yang baik untuk meneruskan keberlangsungan pameran seni rupa FKY yang lebih berwibawa," terang Kus.



Kirim Komentar