Siswa SMSR Mengakhirinya dengan `Enthek Thung`
Tema `Enthek Thung` menjadi perhelatan terakhir mereka setelah tugas akhir dipamerkan dan dipertontonkan untuk umum. Karya terbaik dari 200 siswa lebih Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta berakhir hari ini Rabu (26/5) yang sebelumnya dimulai pada Sabtu (22/5). Menempati penuh ruang pameran di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta selama lima hari menjadi kebanggaan tersendiri bagi para calon senimam muda tersebut. Kebanggaan baik setelah melewati pasca ujian kelas tiga maupun songsongan untuk menjadi seniman muda bercampur-aduk menjadi satu didalamnya.
Yoma Septiantika salah satu peserta pameran yang ditemui GudegNet Kamis (26/5) disela-sela pameran mengungkapkan bahwa ia maupun rekan-rekan yang lain menjalankan kewajibannya sebagai tugas akhir dalam perjalanan pendidikan di SMSR serta berusaha menampilkan dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka tetap eksis. "Jadi kami cuma berusaha mengatakan kepada masyarakat bahwa akan datang calon seniman yang akan menyemarakkan dunia seni rupa di Yogyakarta. Kami kan dari sekolah seni, jadi supaya terbiasa dengan hasil kerja yang dapat dilihat oleh masyarakat umum," tukasnya.
Pameran yang menampilkan seni lukis, grafis komunikasi, dekorasi, kriya kayu dan kriya keramik tentu menjadi sajian tersendiri apalagi jika dihitung dari usia peserta pameran yang masih muda, mereka mampu menampilkan ide-ide yang baru dan orisinil dengan tampilan `liar`. Liar tersebut lebih pada usaha untuk menampilkan suatu yang baru dari apa saja yang pernah ada maupun standart ilmu yang didapat dibangku sekolah. Walau dengan keterbatasan media baik berupa cat air dan cat minyak bagi siswa yang menampilkan karya lukis, namun bukan menjadi hambatan untuk tetap mengungkapkan kreativitasnya dalam sebidang kanvas.
"Sekolah menyediakan cat air dan minyak dan kebetulan ada teman saya yang menggunakan kedua media itu. Tapi tetap saja ada yang lain berusaha tampil beda dengan variasi seperti Mixed media. Saya sendiri pakai cat minyak kok," lanjutnya. Yoma sendiri mengangkat judul "Tertekan" pada karyanya setelah mendapatkan inspirasi dari menonton berita yang ditampilkan di TV mengenai peristiwa yang membuatnya kasihan dan ikut merasakan. "Saya memilih aliran ekspresionisme walau aliran yang lain tetap saya pelajari semua. Dengan ekspresionisme itu, saya lebih klop dan mantap apalagi untuk tugas akhir biar bisa lulus," ungkapnya.
Peserta pameran lain, Dwi Susanto yang mendapat giliran shift saat itu bersama dengan Yoma mengungkapkan bahwa guru adalah ibu dan yang setia menyuapkan kepada anaknya. "Pada saat kelas tiga, sang ibu bilang iki wis enthek le. Peristiwa enthek ini ditandai dengan perjuangan habis-habisan dalam tugas akhir kami sebagai pelajar di sekolah seni rupa," ucapnya. Dwi menambahkan, masalah mau melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi atau pilihan yang lain menjadi pilihan tiap siswa, namun tetap harus melewati proses `enthek thung` tadi.
Keduanya menyatakan bahwa para calon seniman harus berani untuk berkarya dan berani melangkah lebih maju. "Jangan takut-takut, banyak berlatih dan pantang menyerah mungkin itu yang bisa kita ungkapin sekarang," tukas keduanya bergantian. Mewakili rekan yang lain, keduanya berharap agar masyarakat luas dapat menerima ide mereka yang dituangkan dalam media apa saja sehingga tetap berkembang dan tidak mengalami titik jenuh.



Kirim Komentar