Proyek Mural "eng.. ing.. eng" Arie Dyanto di Galeri LIP
APA JADINYA JIKA DINDING DALAM RUMAH DAN GALERI DISULAP MENJADI MURAL yang biasanya terlihat di pinggir jalan raya sembari mengusung sindiran dengan tema keindahan tertentu. Kini publik nampaknya harus mulai terbiasa dengan gaya seniman mural yang satu ini, Arie Dyanto yang berpameran di Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Jln Sagan No 3 Yogyakarta. Arie Dyanto si pelaku yang penuh subyektifitas, perlu 30 tahun untuk melihat ulang apa yang pernah ia miliki dan mensyukuri atas nama persahabatan yang pernah terjalin. Ia mengejawantahkan sebuah proyek mural ini sebagai penghormatan akan hidup dan keberanian untuk jujur dalam merayakan dan mensyukuri yang ia miliki dalam prosesnya.
Berangkat dari kumpulan ingatan pengalaman pribadi, disusun berdasarkan rekaman fotografi dan emosi yang masih melekat akan kejadian dan peristiwa yang pernah berlaku. Secara keseluruhan mural in door ini bercerita tentang 4 sekawan yang hidup dan tumbuh pada sebuah kota kecil di bagian selatan Jawa Tengah yaitu Wonogiri. Seiring berjalannya waktu, keempatnya mengalami pertumbuhan yang membawa mereka pada sebuah pemahaman tentang pubertas dan membentuk mereka dalam seting kota kecil yang identik dengan kekerasan hidup dan kebosanan akan ruang yang terbatas.
Ada tiga bagian besar yang penting sengaja ditonjolkan dalam mural bertajuk "eng.. ing.. eng" ini yaitu yang mengisahkan tentang gejolak kawula muda, ditandai dengan adanya motor trail dan rute perjalanan yang dilalui untuk jalan-jalan ke Solo sepanjang 35 km. Kegiatan sekolah mereka yang ditandai dengan judul "Rajin Pangkal Pandai" dan yang terakhir adalah cerita khusus tentang 4 sekawan.
Pada era tahun 80-an, celana baggy dan terpaan media pun ikut pula diusung, pada masa itu Anita Cemerlang (sebuah mejalah remaja terbitan ibukota, sekarang sudah almarhum), bacaan porno stensilan Enny Arrow yang sengaja diplesetkan menjadi Enny Error dengan judul "Surga Perawan", televisi dan tak ketinggalan film VHS XXX (porno) pun ikut pula dalam kisah mural ini.
Sayang sekali, permainan warna yang dominan dan kurang beragam, tidak bisa menunjukkan betapa berwarna-warninya kehidupan remaja mereka karena ditunjukkan dengan warna-warna monoton dominasi merah, biru dan hitam. Masih banyak ruang kosong yang tidak mampu bercerita lebih daripada apa yang kita lihat secara lugas. Inipun juga terjadi pada teknik pengecatan yang menggunakan Pylox yang masih dinafikan oleh mural jalanan. Selebihnya memang menggunakan cat tembok dan mal seperti yang digunakan untuk menggambarkan rumah-rumah yang seragam bentuknya. Agaknya kita dipaksa untuk setuju dengan gambaran rumah yang diberikan sebuah pengertian bahwa "Rumah adalah di mana Ada Hati".
Kumpulan ingatan dan cerita ini dimaksudkan untuk menghormati salah satu aktor dalam kisah ini yang telah mendahului yang lain dan mengakhiri cerita hidup dan mimpinya. Arie Dyanto menjadikan proyek mural in door ini sebagai monumen kenangan pribadi akan hal-hal yang pernah terjadi sekaligus sebagi sebuah penanda untuk melihat sesuatu yang menjadi milik masing-masing pelaku sampai hari ini. Cerita didasarkan pada ingatan dan sudut pandang subyektif salah satu pelakuknya memang yang bersumber pada memori dirinya sendiri.



Kirim Komentar