Satukan Persepsi dalam Home Concert 2004 “Musik Satukan Perbedaan”
BERJUTA RAGAM DINAMIKA KONSEP MUSIKAL DI SEKELILING KITA yang kian kompleks tampak menari-nari di alam blantika musik Indonesia dengan bisikan-bisikan hipnotis mengajak para musikus untuk berorientasi pada luasanya pasar dalam budaya popular, hingga menyebabkan aura kesenian luntur dan hilang entah kemana. Retorika tersebut, diterjemahkan menjadi seonggok target puncak untuk sebuah konser. Bagaimana memaknai musik sebagai bahasa universal yang dapat menyatukan persepsi dan pandangan kita dalam konteks apresiasi penghargaan untuk nilai karya seni.
Dalam era digital, memang keindahan musik dapat dihadirkan di mana saja dan kapan saja, namun dalam dimensi tertentu kita dapat merasakan hadirnya aura musik yang menyentuh relung imajinasi dan batin kita. Sebuah konser musik Home Concert 2004 bertajuk Musik Satukan Perbedaan persembahan HIMA Jurusan Musik ISI Yogyakarta, semalam (4/6) meriah digelar di Auditorium Musik ISI Yogyakarta. Konser yang memberikan apresiasi musik klasik kepada masyarakat tersebut, sebagai gambaran sebuah realita kehidupan manusia yang beragam dalam berpendapat tentang musik (apa saja), satu sama lain yang berbeda persepsinya.
Home Concert 2004 yang dihadiri ratusan penonton yang memenuhi ruangan berkapasitas 500 ini, dibuka dengan penampilan Jurasik String Orchestra dengan membawakan 3 reportoar Concerto Grosso Op.6, No.1 (George Friedericc Handel), Concerto For Two Violins (Antonio Vivaldi) dengan solis biola oleh Ega Putra Tweeda Pinta violinst berumur 7 tahun, merupakan satu-satunya pemain biola termuda di Jogja. Kemudian reportoar ke tiga Paragon Rag (Scott Joplin/ piano arr. E.H.Jones/orc.PG) dengan conductor Pipin Garibaldi.
Selain menampilkan orchestra, Home Concert 2004 juga menghadirkan Gema (Gitar ekstra Mahasiswa), dengan melibatkan kurang lebih 20 pemain gitar. Gema membawakan reportoar Eine Kleine Nachtmusik (W.A Mozart) yang diaransemen Cretta B, kemudian Les Toreadors from carmen (G.Bizet) Arr. Yandhi dengan conductor Andre Indrawan. Penampilan berikutnya dengan solo gitar Seno Aji membawakan Tango En Skai (Roland Dyens) dan Eine Kleine Rock Music (Jurge V), begitu juga Rahmat Raharjo, dengan petikan gitarnya Rahmat memainkan Surilang (Arr.Iwan Tansil) dan Leyenda (Isaac Albeniz).
Home Concert 2004 yang berangkat dari pengamatan kurangnya pertunjukan musik klasik saat ini, semakin meriah dengan kehadiran orkestra dan konduktor ternama. Home Concert yang sempat break seperempat jam ini, kemudian dilanjutkan kembali tepat pukul 21.30 Wib dengan penampilan KESPER, Ra`Mekakat Voice dengan El Grillo (the ticket) dan It`s Grand Night. Serta Rinto Pratama dengan biolanya yang diiringi pianis Iwan yang membawakan Sonata No. 5 dan Etude Caprice Rode No. 2.
Penampilan Home Concert Orchestra 2004 dengan konduktor Budi Ngurah, malam tadi sangat memukau penonton dengan membawakan reportoar Sute No. 1 (Igor Stravinsky). Applouse penonton yang meriah menghujani penampilan Jurasic Wind Ensemble yang juga menutup acara Home Concert 2004 “Musik Satukan Perbedaan” malam tadi. Dengan arahan Joko “Lemazh”, Jurasic membawakan reportoar Novena Rhapsody for Band.
Menurut ketua panitia Cretta Cucu Abdullah yang ditemui GudegNet, bertujuan memberikan apresiasi musik klasik untuk masyarakat luas agar nantinya musik klasik menjadi bagian primer dalam belantika musik nasional. Masyarakat diberikan kesempatan untuk menikmati dan mengapresiasikan pertunjukan musik klasik dengan biaya terjangkau, namun kualitas pertunjukannya tetap terjaga dan berkualitas. Sehingga menepis anggapan masyarakat tentang musik klasik yang identik dengan kantong tebal atau untuk kalangan atas.



Kirim Komentar