Mengomentari Agama Lewat Lukisan Emmanuel Garibay
DIALOG ANTARA IDEOLOGI, AGAMA, DAN ALIRAN SENI ternyata mampu menghadirkan satu sudut pandang baru yang lebih mudah diterima ketika satu sama lain saling memberikan kritik. Emmanuel Garibay, pelukis asal Filipina yang juga seorang teolog kaum awam di negara tersebut, mencoba menyiratkan otokritik yang cukup nakal terhadap struktur Gereja dan perilaku para pemimpin Gereja di negaranya melalui karya-karya lukis ciptaannya yang akan dipamerkan selama 5 hari penuh mulai Sabtu besok (9/6) hingga Minggu (13/6) di Atrium Universitas Duta Wacana Yogyakarta (UKDW), Jl Dr Wahidin 5-19 dengan tajuk "Menggali Perspektif Christian Art dalam Konteks Sosial Religius di Indonesia".
Acara tersebut terselenggara berkat kerjasama Asian Christian Art Assosiation (ACAA), sebuah institusi seni yang didirikan tahun 1978 di Bali dengan UKDW. Lembaga yang dimotori oleh para teolog Asia, seperti Dr. Eka Darmaputra dan Dr. Judo Poerwowidagdo MA - teolog dari Indonesia, Prof Masao Takenaka dari Jepang, Rev. Ron O`Grady dari New Zealand serta seniman Bagong Kusudiharjo, Nyoman Darsane, Solomon Raj dan sebagainya tersebut memilih UKDW karena universitas tersebut dirasakan mempunyai cukup pengalaman dalam penyelenggaraan even seni yang bertaraf internasional serta memiliki komunitas seni mahasiswa.
Selain acara yang dimulai pukul 18.30 WIB tersebut, pada malam harinya pukul 20.00 WIB akan digelar pula diskusi seni dengan Emmanuel untuk membahas konsep dan pemikiran dibalik karya-karya lukis ciptaannya. Pembicara yang akan hadir antara lain E. Gerrit Singgih, Ph.D dan Robert setyo, Ph.D dengan tajuk "Art dan Teologi-Kristologi karya-karya Emmanuel Garibay".
Dalam rangkaian acara tahunan tersebut, di tempat yang sama pada Jumat depan (11/6), pukul 09.00-17.00 WIB akan digelar juga pertemuan ACCA yang akan dihadiri para pelukis Asia dan Indonesia untuk demo melukis, semisal He Qi (Cina), Jae Im Kim (Korea), Alphonso Doss (India), Soichi Watanabe (Jepang), Rambukwelle (Srilangka) Hanna V (Malaysia) serta pelukis Indonesia Joko Pekik, Ivan Sagita, Rina Libert, Titus Libert, Teguh Suwarto, AB Dwiantoro, Bonyong Muniardi, Ning Yuliastuti, Teguh Osterik, Nyoman Darnase, Ketut Lasia, Ni Ketut Sri Wardani dan Tina Balley.
Demo melukis bersama tersebut berdasarkan press release yang diterima GudegNet hari ini diselenggarakan sebagai wahana membangun dan mempererat hubungan antar seniman di kawasan Asia maupun dengan masyarakat budaya di Indonesia, termasuk di Yogyakarta sebagai kota budaya. Sementara pada Sabtu malam (12/6) pukul 20.00 WIB, untuk melengkapi rangkaian acara tersebut akan kembali digelar diskusi seni dengan pembicara Dr. Mudji Sutrisno (budayawan) dan Siti Adiyati (peneliti).



Kirim Komentar