FKY XVI 2004 Digelar sebagai "Salam Damai dari Jogja"
UPACARA PEMBUKAAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA (FKY) XVI 2004 yang dipusatkan di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Selasa (15/06), kali ini terkesan biasa saja. Seremonial arak-arakan kesenian yang senantiasa dinanti-nanti oleh masyarakat kota Gudeg dan para wisatawan, ditiadakan oleh panitia FKY XVI 2004. Mungkin dikarenakan momen FKY kali ini bersamaan dengan kampanye Pemilu Presiden 2004, sehingga kemeriahan arakan kesenian di sepanjang jalan Malioboro-Ahmad Yani, absen dari kerasnya aspal jalanan.
Digelar terlambat 20 menit dari jadwal (19.00 WIB), upacara pembukaan mempersembahkan berbagai macam pertunjukan kesenian: paduan suara Bina Sruti dan tarian Mandarin, fragmen Kebranan Pati dari Kamasetra UNY, bancak Doyok dari SMKI Yogyakarta hingga Ensamble STSI Surakarta. Baru pada pukul 20.30 WIB, keseluruhan agenda FKY XVI 2004 dibuka dengan pemukulan gong oleh Ir. Condroyono, Kepala Badan Pariwisata Daerah Provinsi DIY, sebagai wakil dari Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berhalangan hadir.
Beberapa komentar dari masyarakat yang menyaksikan pembukaan dari luar pagar besi monumen, mengaku merasa kurang greget-nya tanpa kehadiran beliau. Hal tersebut juga diakui secara serius oleh team pembawa acara FKY XVI 2004, Komunitas Ndagel Dot Kom (KONDOM) yang sedang naik daun tersebut. KONDOM menjadi official master of ceremony selama FKY berlangsung, dengan personel Wawan Hitam Menawan, Gundhi Pemikat Hati, Mya Sehat4Sempurna, dan Beng-beng Rajin Mengaji dan Tidak Suka Berlama-lama di Kamar Mandi.
Mengambil tema "Kesenian sebagai Peredam dan Penyejuk Gejolak Bangsa", FKY XVI 2004 ini digelar sebagai salah satu sarana ekspresi para seniman di seluruh penjuru kota Yogyakarta, sembari mengajak masyarakat kota Gudeg menikmati dan mengapresiasi persembahan kesenian yang berlangsung selama 1,5 bulan (15 Juni-31 Juli) tersebut. Sub tema yang diangkat pun cenderung menyuarakan kedamaian di tengah gelombang menyesakkan kampanye pemilu presiden, yaitu "Salam Damai dari Jogja".
Di dalam benteng Vredeburg, juga digelar upacara pembukaan Pasar Seni FKY XVI 2004 yang diisi oleh Yu Beruk, Den Baguse Ngarso, Sronto, dan Agus Kencrot. Mereka juga membuat seremonial upacara pembukaan (Pasar Seni) FKY XVI 2004 dengan gaya humor khas Jogja. Peresmian pun dilakukan dengan pemukulan gong, hanya saja ukurannya lebih kecil dari gong di monumen SO 1 Maret, berdiameter kurang lebih 10 sentimeter. Sentilan-sentilan pedas mereka guyurkan ke hadapan penonton yang menyemut di sekitar panggung pertunjukan. Seperti misalnya permasalahan dana FKY XVI 2004 yang hingga hari-H belum juga turun. Dana sebesar ratusan juta tersebut diharapkan segera turun dari pemerintah provinsi DIY yang bersumber dari APBD DIY tahun 2004, sehingga jajaran panitia dan pengisi acara tidak tombok terus.
Inilah wajah awal gebyar festival kesenian yang menjadi ciri khas kota Yogyakarta setiap tahunnya. Cukup berbeda memang dengan penyelenggaraan FKY tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan dan inovasi dalam penyelenggaraan dapat diterima oleh pendukung dan penikmat FKY, hanya saja seluruh masyarakat seni dan awam (tentu saja) berharap besar bahwa gelaran kesenian kali ini berlangsung lebih baik dan tidak hanya sekedar menjadi proyek kesenian belaka.
Mari kita berkesenian !



Kirim Komentar