Mengusung "Multipopnoise" dari Outdoor menuju Indoor

Oleh : Aqidah / Senin, 00 0000 00:00

FETE DE LA MUSIQUE "MULTIPOPNOISE" YANG BERLANGSUNG DI GEDUNG SOCIETET Taman Budaya Yogyakarta pada Sabtu (19/6) lalu menyisakan ingatan kita pada panggung yang dipenuhi lampu. Acara yang diselenggarakan serentak di 2 tempat, Hugo`s Cafe dan Societet ini, adalah kerjasama Lembaga Indonesia Perancis (LIP) dengan Love Production pimpinan Besar Widodo.

Menampilkan 5 group band asal Yogya seperti Next of Kin, Melancholic Bitch, Mock Me Not, Bagaikan, dan Seek Six Sick acara yang sedianya terjadwal dipublikasi akan dimulai pada pukul 19.00 WIB ini molor selama satu jam, padahal para pengisi acara telah tampak lalu-lalang di teras gedung pertunjukan. Di dalam ruang pertunjukan berkapasitas 300 kursi itu telah dipenuhi dengan penonton tetapi sayang setting panggung yang dipenuhi lampu itu, lightingnya membuat silau dan melelahkan mata. Screen berukuran 1 x 6 m digantung terentang persis di atas panggung.

Sejak penampilan Next of Kin sebagai pembuka acara, lighting tidak disesuaikan dengan mood lagu sehingga terkesan mandi cahaya dan hanya "asal gemerlap". Banyak penonton menahan sinar dengan meletakkan tangannya di atas mata tanda silau. Tak sedikit pula yang mengernyitkan dahi dan memicingkan mata berusaha menikmati pentas musik ini. Blocking lampu di panggung ini terus terjadi hingga akhir pentas. Permainan kelima musik beraliran keras yang lebih cocok dilaksanakan di outdoor ini menggunakan lighting system berkekuatan 50 ribu watt dan sound system 20 ribu watt dari Thunder Sound & Lighting System. Tentang pemilihan tempatnya, acara ini sengaja dilaksanakan di gedung tertutup untuk mengubah image panggung konvensionsl seperti Gedung Societet dan sebagai tantangan untuk eksplorasi panggung bagi band yang tampil.

Menilik soal videography yang diciptakan oleh Jompet, seorang seniman video-art installation, video yang ditampilkan kurang maksimal. Ia hanya membuat spot-spot kecil bertulis tajuk acara ini yang hadir menyelingi pergantian group yang tampil. Selebihnya itu, screen video di atas panggung itu tak menampilkan video performance group yang tampil. Padahal idealnya, seorang videographer memenuhi order pertunjukan dengan menampilkan visual konsep bermusik atau image-image atas group itu. Berbeda dengan video-installation art, screen bagaikan sebuah kanvas sebagai media untuk menorehkan perpanjangan proses kreatif yang melingkupi studio dan ruang sosial. Kesadaran ini yang tampaknya belum digunakan pada pertunjukan-pertunjukan lokal.

Berakhir pada pukul 22.30 WIB, walau banyak kekurangan di sana-sini, toh penonton tetap memberikan applause di akhir acara. Beberapa kebiasaan pentas outdoor juga diusung masuk ke gedung pertunjukan ini seperti menyebarkan stiker dan meletakkan air mineral di mulut panggung. Pentas musik yang digelar tanpa MC ini, mencoba memberikan tawaran pentas musik dengan format yang berbeda di kota Gudeg.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini