"Tato Totem" Kolaborasi Koreografi Tari dan Tato di Parangtritis
EKSOTIKA PANTAI LAUT SELATAN SEAKAN TAK ADA HABISNYA untuk dinikmati sekaligus disegani oleh siapapun yang pernah melihat dan merasakannya. Tak luput pula adanya penciptaan karya alam yang luar biasa megah di sekitar pantai Parangtritis dan kemudian menjadi sebuah laboratorium alam yang belum tersentuh oleh kemajuan teknologi. Hal itulah yang ditangkap oleh Bernadetta "Kinting" Sri Hanjati, seorang penata rias dan busana daerah, yang terpukau dengan kekuatan pantai laut selatan dan keindahan laboratorium alam tersebut.
Hadir selama dua hari berturut-turut (27-28/06) di pantai Parangendok (sisi pantai sebelah timur) Parangtritis, Kinting kali ini menjadi seorang koreografer pertunjukan tari yang dikolaborasikan dengan berbagai unsur karya seni yang dapat diraihnya. Mungkin terkesan campur aduk. Akan tetapi, campuran itulah yang kemudian menambah nilai lebih pada eksotika pantai Laut Selatan dengan karya koreografinya. Salah satunya adalah seni tattoo yang kemudian lahir sebagai tajuk Pertunjukan Tari Koreografi Lingkungan kali ini, "Tato Totem" Parangtritis.
Di tengah perkembangan dan perubahan cara pandang baru terhadap seni tattoo dan seni body painting, Kinting secara sabar melahap waktu dua tahun dan kemudian dengan jeli memanfaatkan proses gerak kebudayaan tersebut untuk menciptakan satu komposisi baru dari unsur seni rias dan busana yang dengan mudah tentunya dipadukannya dengan seni tari. Hanya saja nafas kontemporer sangat kental menghias kolaborasi ini sehingga tak akan hadir dihadapan para penikmat sebuah tarian klasik atau tradisional yang menggunakan gending Jawa yang mengalun lembut penuh keanggunan. Justru sebaliknya. Diberikan hentakan penuh beat dari tambur dan berbagai macam alat musik digital. Sangat multimedia.
Kinting menekankan unsur alam yang terkandung di laboratorium Parangtritis seperti pasir gumuk, karang, ombak, misteri dan unsur magis sebagai karakter pembuka koreografinya. Para penari pun dirias dengan warna-warna alam yang tua dan kuat dengan motif tribal dan bunga untuk menghadirkan nuansa estetik dan mistis. Dengan busana minimalis, seperti koteka berwarna putih dan hitam untuk penari laki-laki dan busana dari jerami untuk penutup badan dan aurat bagi penari perempuan, Kinting menunjukkan kepiawaiannya dalam hal seni rias dan busana. Unsur kekuatan dan kekerasan justru kemudian dihadirkan dari sosok-sosok tubuh yang kekar dan penuh otot yang `mbodi` dari para binaragawan yang tak luput dari eksplorasi riasan dan busana Kinting. Sekujur tubuh mereka berhiaskan tato hingga wujud visual pun tercipta bagaikan rangkaian totem.
FG. Pandhuagie, seorang pekerja seni, mengakui karya tari Kinting ini bersumber dari konsep koreografi lingkungan. Menurutnya, Kinting mampu memadukan komponen visual sebagai sebuah sajian yang layak dinikmati. Antara warna, garis, ruang dan tekstur, ada paduan yang serasi dengan melibatkan banyak pekerja seni dalam bidang koreografer, fotografer, penari, pemusik, perias, binaragawan, perupa, penato, dan lain sebagainya.
Lain lagi komentar dari Paranditya Wintarni yang mencermati dari sisi gerak yang dipadu dengan riasan-riasan tato. Penari dan juga cucu dari (Alm.) Begawan Bagong Kusudiardjo ini mengakui gerak tari yang indah ketika koreografinya sangat memperhatikan kekuatan busana dan riasan tato. Namun ketika ditantang GudegNet menari dengan riasan ala Kinting, Andit (panggilan akrab -red) mengaku belum siap.
Sebagai salah satu upaya menciptakan pondasi konseptual untuk cara pandang baru dan variatif pada seni tata rias dan busana, pertunjukan tari koreografi lingkungan di Parangtritis ini menjadi ekspresi dan sarana pergumulan berbagai bidang seni yang ternyata mampu saling mendukung dalam ruang budaya masyarakat seni pertunjukan dan umum. Salah satunya adalah seni tattoo dan body painting. Satu catatan lagi, Festival Kesenian Yogyakarta XVI 2004 yang berlangsung selama satu setengah bulan (15/06-31/07) berani menjadi payung bagi Kinting.



Kirim Komentar