Eksistensi Jatmiko dalam Seni Lukis dan Pameran

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

EKSISTENSI SEORANG PELUKIS ADALAH PENYELENGGARAAN PAMERAN, sebagai salah satu tolok ukurnya. Sebut saja Sujatmiko, seorang pelukis berbadan subur kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini kemudian mengusung karya-karyanya dalam pameran lukisan tunggal di Posnya Seni Godod Jln Suryodiningratan MJ II/ 641 sejak Jumat (2/6) lalu hingga Sabtu (17/6) mendatang.

Pameran kali ini menampilkan karya dengan bahan mix media berukuran 90x70cm sebanyak 13 buah. Angka 13 bukanlah merupakan angka tabu bagi Sujatmiko walaupun ia punya darah Jawa dari ibunya. Ia berharap angka 13 merupakan angka kemujuran baginya, hal tersebut terlihat dari jumlah pengunjung yang sudah mencapai 100 lebih pecinta seni yang berusaha menikmati karya-karyanya. "Karya-karya ini merupakan karya pilihan yang diperuntukkan pameran tunggal saya," tukasnya.

Bagi Sujatmiko, karya yang tampil dalam pameran tunggalnya tidak harus selalu terkait dengan kuantitas. "Dalam pameran tunggal ini yang kami pentingkan adalah kualitas dari karyanya, bukan dari kuantitasnya. Jika seorang penyanyi menyapa publik dengan alunan suara, seorang orator dengan intonasi dan isi pidato yang dibawakan, demikian juga seorang pelukis ngaruhke masyarakat pecintanya dengan karya-karya lukisnya," tandanya.

Melihat cara Sujatmiko berolah seni sangat dibentuk oleh diskusi-diskusi seni yang dulu sangat dipengaruhi wacana formalisme dalam eksplorasi atas media jadi pusat perhatian. Dalam formalisme seni, dilepaskan dari konteks-konteks sosial-kultural yang hidup pada waktu itu dilahirkan. Sujatmiko merasa terprovokasi dengan wacana yang memacu seniman untuk bereksperimen dengan cara-cara di luar pakem dan trend atau praktek seni yang telah jadi praktek umum. Teknik lukis Sujatmiko yang terus dipraktekkannya sampai sekarang ini muncul karena dulu ia belum merasa memberi kontribusi apa-apa bila masih melukis dengan cara-cara konvensional.

Dari sisi teknis, Sujatmiko telah berhasil menghadirkan karya-karya yang dibuat dengan cara pengerjaan yang unik. Ia temukan cara dan teknik eksekusi sendiri, perwajahan karya-karyanya pun punya karakter. Namun ini tidak berarti persoalan atas perannya untuk menggali kreativitas dan inovasi telah selesai. Dalam dunia kreativitas dan inovasi, umur biologis dan predikat serta status sosial tidak punya pengaruh apa-apa. "Setiap jaman punya persoalan sendiri-sendiri. Persoalan itu pun harus dijawab dengan paradigma dan logika yang berlaku di jamannya," ungkap Sujatmiko.

Sekarang, pinjam-meminjam perbendaharaan visual dan metode kreatif dalam seni, merupakan hal yang biasa dan wajar, yang penting adalah apakah dengan ungkapan atau cara pandang pinjam tersebut. "Kita mampu atau tidak mengaktualkan persepsi dan insight kita atas realitas dunia sekarang ini melalui media yang imajinatif, unik dan menarik.

Mahyudin Al Mudra Direktur Penerbit AdiCitra grup Yogyakarta yang dipercaya untuk membuka pameran kemarin mengungkapkan bahwa jika Veri, Haikal dan Tia memperoleh media untuk mengekspresikan diri melalui Akademi Fantasi yang gegap gempita dan membuat balita hingga calon presiden demam, para perupa harus melakukan re-clamare kepada publik melalui pameran.

"Pameran adalah media yang hingga saat ini masih paling efektif untuk menyapa publiknya menyatakan bahwa sang perupa masih ada yang meng-ada, masih eksis dan tidak berhenti berkarya. Sebagai media pembelajaran, dalam pameran akan terjadi dialog dua arah yang saling memberi dan menerima, saling belajar antar perupa dan masyarakat," tegasnya.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini