Lukisan Sujatmiko Lupakan Teori di Posnya Seni Godod

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

"Bagaimana mungkin sebuah lukisan dengan berbagai elemen visual-dasariah semisal lingkaran, segi empat atau apa saja, yang disusun dengan gaya repetisi atau sekehendak perupanya dengan tumpahan warna-warna cat sembarang dengan teknik entah apa namanya itu bisa dipahami orang yang maqom-nya seperti saya ini," tukas Mahyudin Al Mudra, penikmat seni sekaligus Direktur Penerbit AdiCita Grup Yogyakarta yang dipercayai oleh Sujatmiko untuk membuka pameran tunggalnya di Posnya Seni Godod, Jln Suryodiningratan MJ II/ 641 Yogyakarta.

Mahyudin merasa berat untuk menerima vonis dan harus mengakui secara terbuka bahwa sejujurnya ia tidak perlu memahami lukisan baik yang figuratif maupun yang dekoratif sekalipun. "Lukisan selama ini saya pahami sebagai gambar yang indah yang menyejukkan hati di saat saya gundah." tegasnya.

Kata orang, lukisan adalah bahasa perupa terhadap lingkungan eksternalnya. Sebagai bahasa, tentunya dimaksudkan untuk berkomunikasi, menyampaikan, melakukan dialog dengan masyarakat. "Tentu ada yang ingin diungkapkan dan juga dipahami oleh perupa, yang juga berlaku bagi perupa aliran abstrak. Sayangnya, bagi saya mungkin juga bagi kebanyakan awam, bahasa tersebut tidak saya mengerti gramatika-nya, vocabulari-nya, spelling-nya bahkan pronounciation-nya," imbuhnya. Bagi Mahyudin, merupakan suatu keuntungan dalam berkomunikasi tidak diberlakukan harga mati sebagaimana kaidah-kaidah dalam pembelajaran linguistik-dogmatis.

Lukisan, bukan hanya sekedar gambar mati yang merupakan pemindahan obyek-realitas eksternal ke dalam kanvas yang hanya bisa dinikmati secara visual verbal, melainkan juga menawarkan nilai-nilai kehidupan secara universal. Pada lukisan abstrak, potret juga meliputi obyek-internal yang merupakan ekspresi pikiran, penghayatan, perasaan, suasana batin, keyakinan, misi dan ajakan seorang perupa yang berkomunikasi dengan jujur, apa adanya, kesediaan untuk saling memahami dan mengerti serta saling memberi dan menerima.

Sebagai ekspresi emosi, fantasi dan intelegensi seorang perupa, menurut Mahyudin, sebuah lukisan tentu sarat dengan muatan kejiwaan yang melingkupi sang perupa pada saat lukisan tersebut dilahirkan. "Pemikiran dan sikap sufistik-supranatural-religius Jatmiko yang menjadi sandaran langkah dan nafas hidupnya sehari-hari, muncul dengan kental pada karya-karya lukisannya," tambahnya. Simbol-simbol yang Jatmiko ciptakan selalu menuju pada satu titik seperti Causa Prima dan Yang Maha Kuasa.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini