Minimnya Ruang Seni Rupa di Media Massa

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

UNEG-UNEG PARA PERUPA, KHUSUSNYA SENIMAN LUKIS muncul secara spontan dalam beberapa rentetan pertanyaan dan sanggahan bahwa space yang disediakan oleh media massa masih kurang. Ruangan tersebut lebih banyak porsinya pada liputan yang menarik perhatian para pemasang iklan atau pihak-pihak yang berkaitan dengan dana segar yang diterima oleh media massa.

"Peliputan memang ada, hanya porsinya masih kurang. Mungkin ada yang menyediakan rubrik khusus untuk seni rupa tapi umumnya lebih berorientasi pada bisnis," tukas Adi Supo wartawan senior SKH Kedaulatan Rakyat yang tampil sebagai salah satu narasumber dalam sarasehan "Ngobrol Ngalor Ngidul Tentang Lukisan Sujatmiko".

Sarasehan pada Minggu (11/7) sore di Posnya Seni Godod terlihat meriah karena dihadiri oleh pelukis atau seniman yang sudah punya nama di Yogyakarta. Beberapa diantaranya yang ikut hadir, yaitu Dewobroto, Titus, Mahroji Kudhori, Basuki Rais, Mahyar dan Godod Sutejo. "Pameran seni rupa yang diselenggarakan di Yogyakarta ini kurang mendapatkan porsi untuk pemberitaannya," tukas Supo. Ia mengatakan, ada yang mengeluh mengenai kritik atau ulasan pameran individu yang kadang-kadang tidak bisa diterima oleh redaktur budaya.

Titus menambahkan bahwa kritikus seperti diarahkan pada ulasan yang sifatnya market oriented. "Yang dilihat selama ini bukan pada pendidikan atau background pelukis yang mengadakan pameran. Para peliput juga harus berhati-hati terhadap orientasi pasar itu tadi," tegas Titus.

Gagasan untuk melakukan penyerangan secara frontal melalui ulasan atau kritikan budaya yang dimuat media massa menjadi salah satu bahasan yang diungkapkan oleh Mahyar. "Hal itu perlu apalagi didukung dengan adanya pembukaan jurusan baru yang secara khusus mengangkat tentang kritik seni," terangnya disusul gelak tawa para peserta sarasehan.

Bagi Mahyar, sesuatu yang sangat disayangkan ketika banyak tulisan yang tidak dipublikasikan dengan volume yang stabil atau konstan sehingga tidak mampu mendukung eksistensi seorang seniman yang sedang pameran. "Masalah ulasan budaya tidak hanya untuk seniman namun juga menjadi konsumsi yang dibutuhkan masyarakat," tandasnya. Mahyar pun mengungkapkan rasa kagumnya pada Sujatmiko atas kualitas karya yang ditampilkan dalam pameran tunggalnya.

Beberapa seniman juga sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Mahyar mengenai teknik unik dan khas yang digunakan oleh Sujatmiko. Mahroji juga angkat bicara untuk selalu menyertakan keterangan atau sedikit bahasan yang mengenai karya yang ditampilkan seniman saat pameran sehingga penikmat seni secara pasti tahu yang ingin diungkapkan. Senada yang diungkapkan Basuki Rais, walaupun masyarakat bebas melakukan interpretasi, "Minimal masyarakat tahu tentang apa yang dipikirkan oleh seniman ketika mereka mengguratkan cat dalam kanvas,"

Namun, ada sedikit ganjalan tersendiri bagi kedua pelukis tersebut tentang hasil kurasi yang diberikan oleh kurator yang terkadang berbeda dengan apa yang menjadi ide atau konsep awal seniman sehingga membingungkan masyarakat ketika mendapatkan keterangan yang berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan katalog yang mereka terima saat memasuki ruang pameran.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini