Pameran Seni Rupa Barcode Ramai Dikunjungi

Oleh : setya hadi nugroho / Senin, 00 0000 00:00

KETIKA PERSOALAN MANUSIA, KESERAGAMAN, DAN MANUSIA SENDIRI menjadi sebuah perhitungan dan di-nominalisasi-kan dalam angka-angka itulah kemudian menjadi sebuah tema penting yang diangkat dalam pameran seni rupa bertajuk "Barcode" (baca : bar-kowd-red). Sebuah pameran yang akan menandai sebuah pesta besar para perupa (visual artist) dari berbagai penjuru nusantara berkumpul unjuk gigi karyanya dalam rangka meramaikan (konon) pesta rakyat Yogyakarta yang bertajuk Festival Kesenian Yogyakarta XVI tahun 2004.

Ada 36 karya yang dipamerkan sebagai peserta undangan dan 34 karya yang lainnya adalah karya perupa pemula yang berhasil menyisihkan 250-an karya dari (calon) perupa yang akan berpameran lainnya. Karya dua dimensi seperti lukis, grafis, drawing dan karya tiga dimensi yang terdiri dari patung, keramik dan instalasi-pun tumpah ruah memenuhi dinding dan ruang-ruang kosong Gedung Pameran Taman Budaya Societet, Jalan Sriwedari 1 Gondomanan, Yogyakarta, hingga 17 Juli 2004 mendatang.

Dibuka setiap hari pada pukul 09.00-21.00 WIB pameran ini tidak seperti pameran lukisan kebanyakkan, yang hanya ramai pada saat pembukaan. Nyatanya pameran seni rupa Barcode tetap saja dikunjungi oleh penikmat seni bahkan pada hari-hari selanjutnya. Juga tidak menyurutkan niat untuk melihatnya sekalipun di kawasan yang sama terdapat pertunjukan yang lain juga dalam rangka FKY XVI.

Dibandingkan dengan penyelenggaraan pameran serupa tahun-tahun sebelumnya, jumlah peserta tahun ini relatif sedikit, karena biasanya minimal ada 120-an perupa yang berpameran. Namun 70 seniman ini diharapkan akan memberikan gambaran yang jelas bagi para apresian untuk menikmati hasil implementasi secara visual atas garis kuratorial yang ditawarkan. Sekalipun sudah ada beberapa lukisan dan juga patung yang terjual pada kolektor, seperti RIP (Rest in Peace) karya Sigit Santosa yang mengangkat isu tentang desakralisasi sebuah peti mati yang digunakan seorang lelaki setengah telanjang sambil memegangi kemaluannya. Juga karya Sutopo dengan judul Lintasan Ruang dan Waktu yang dibuat dengan media kuningan dan kayu jati.

Karya-karya seniman yang sudah banyak malang melintang berpameran di berbagai gedung pameran kesenian-pun banyak terlihat, baik pameran tunggal atau juga pameran kelompok. Namun untuk pameran seni rupa kali ini, setiap peserta baik yang undangan ataupun juga yang turut kompetisi hanya diharapkan satu karyanya. Sebut saja Midori Hirota yang tetap konsentrasi pada instalasi seninya, Ari Diyanto yang belum lama ini berpameran mural indoor-nya di Lembaga Indonesia Perancis juga menyumbangkan karyanya berjudul Dark Side on The Mow! yang ternyata telah terjual pada salah seorang kolektor seni.

Juga Hendro Suseno dengan judul lukisannya Komoditi Ekspor yang mengangkat tema tentang perempuan Indonesia dengan kualitas ekspor alias TKW, Ook Marhandoko, dengan karya lukisnya berjudul AFI (Audisi Fantasi Indonesia) yang mengangkat tema tentang media uniformity. Lukisan bernada satir yang menggambarkan banyak kepala kambing dengan berbagai warna. Sebuah sindirian halus bagi media televisi yang kini sedang marak menciptakan bintang-bintang secara instan.

Akankah sebuah pameran juga bisa menjadi sebuah jalur instan untuk seniman untuk menampilkan karyanya tanpa dilandasi sebuah konsep karya yang jelas, kira-kira akan bergerak ke manakah para perupa Indonesia?

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini