Menilik Festival Film Pelajar Yogyakarta 2004

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

"MASYARAKAT TIDAK SEKOLAH" AKHIRNYA SAMPAI PADA VISUALISASI KONSEP DAN GAGASAN dari para pelajar tingkat SMU yang hingga hari Selasa (13/7) malam sudah terdapat 10 film dokumenter karya para pelajar yang didaftarkan dan 7 diantaranya terus melakukan konsultasi pada panitia yang membantu pelajar dalam menjadikan sebuah film dokumenter. Terlihat dari penyediaan sarana dan prasarana penunjang yang disiapkan dalam menunjang proses kreativitasnya mereka. Perjalanan Festival Film Pelajar Yogyakarta (FFPY) yang dimotori oleh Yayasan GAIA diawali dengan workshop dan pertemuan intensif dengan para pelajar yang terllibat dalam FFPY.

Penjurian film dokumenter tersebut akan dilakukan pada Jumat (23/7) mendatang di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) dan pada Sabtu (24/7) dilanjutkan dengan pemutaran film dokumentar yang masuk dalam nominasi serta pengumuman kejuaraan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Juri-juri yang dipilih oleh panitia juga tidak kalah menarik dengan karya-karya para pelajar, seperti Heru Kesowo M (Pak Bina), Budi (Etnoreflika), Haryadi (Kompas), Bambang Paningron hingga Bambang SP.

A Iwan K selaku Ketua FFPY saat diwawancarai GudegNet Selasa (13/7) malam di kantornya mengungkapkan bahwa kriteria penilaian yang akan digunakan untuk menentukan juara dilihat dari script film itu sendiri hingga presentasi karya. "Dari film-film yang masuk, beberapa cukup bagus. Tinggal kita serahkan ke juri dan silahkan dinilai," tukasnya.

Menurut penuturan Iwan, dari beberapa film yang masuk ada beberapa naskah yang mengangkat masyarakat yang tidak sekolah memang kebanyakan putus sekolah, jarang tidak masuk dalam konteks karena harus bekerja hingga naskah yang mengangkat seseorang tidak sekolah namun sukses dalam pekerjaan. "Lebih banyak ke bagaimana sebuah kondisi orang yang pernah mengenyam pendidikan formal dan tidak dalam kehidupan para pelajar," sambungnya. Yang sering muncul dalam pertanyaan ketika para pelajar melakukan konsultasi, yaitu masyarakat sekolah bisa siapa saja dalam arti ketika ia pernah atau tidak mendapatkan pendidikan formal dan di dalam hal tersebut muncul fenomena seperti kondisi ekonomi atau beralih menjadi tulang punggung keluarga.

Titik temunya terletak pada sebuah kondisi masyarakat yang sebetulnya cukup dekat dengan lingkungan sehari-hari. Pandangan atau konsep mengenai masyarakat tidak sekolah juga berkembang pandangannya ke arah lain seperti halnya anak jalanan tidak identik dengan dengan pengkategorian tersebut. "Jika teman-teman pelajar dikatakan matang terhadap konsep masyarakat tidak sekolah sih tidak tapi mereka sudah punya gambaran bahwa masyarakat yang tidak sekolah adalah orang-orang yang hidup dengan keterbatasan dalam arti tidak punya pengetahuan yang cukup dan tetap bekerja tapi tidak bersekolah," lanjut Iwan.

Pada awalnya, pihak GAIA saat mengeluarkan tema pertama kali berupa "Putus Sekolah", pada perkembangannya dengan melakukan konsultasi dengan berbagai pihak bahwa tema awal dapat menjadi judul sebuah film dokumenter sehingga terumuskan tema baru dengan "Masyarakat Tidak Sekolah". Harapan dari pihak panitia sendiri adalah pelajar, utamanya yang mendapatkan kesempatan untuk sekolah melihat ada satu sisi di luar mereka. "Orang seusia mereka hidup dalam kondisi di mana mereka tidak bisa sekolah dengan kondisi apa pun sehingga memunculkan empati. Kedua, ada dunia yang dekat dengan mereka namun jarang mereka ketahui," sambungnya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini