Tiga Film Dokumenter Mundur dari Festival Film Pelajar Yogyakarta
TIGA FILM MENGUNDURKAN DIRI DARI FESTIVAL FILM PELAJAR YOGYAKARTA (FFPY) hingga hari Senin (19/07), sehingga dari total 10 film yang akan dinominasikan berubah menjadi 7 film saja. A Iwan K Ketua Panitia FPPY, ketika dihubungi GudegNet, membenarkan hal tersebut dan mengatakan bahwa pengunduran mereka disebabkan oleh beberapa sebab yang tidak diungkapkan secara terperinci.
Mundurnya tiga film dokumenter yang sedianya akan ikut meramaikan FFPY setidaknya menjadi tolak ukur bagi masyarakat bahwa pembuatannya tersebut memang membutuhkan waktu dan kerja keras yang ekstra. Saat ditemui di sela-sela pemutaran film sejak beberapa hari lalu dan berakhir hari Selasa (20/07), Ari menegaskan bahwa para pelajar sudah memberikan yang terbaik untuk karya mereka dan semua pihak patut mengacungkan jempol melihat proses-proses yang mereka lalui untuk membentuk sebuh film dokumenter.
Melibatkan juri-juri yang dipilih oleh panitia dengan berbagai disiplin ilmu dan keahlian di bidangnya, maka nama-nama yang keluar dan dipercaya untuk memberikan penilaian yang obyektif diantaranya seperti Heru Kesowo M (Pak Bina), Budi (Etnoreflika), Haryadi (Kompas), Bambang Paningron dan Bambang SP. Penjurian film dokumenter tersebut akan dilakukan pada Jumat (23/07) pagi pk 08.00 WIB mendatang di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) dan pada Sabtu (24/07) pada jam yang sama.
Ketika disinggung mengenai Hak Cipta yang para peserta FFPY, Iwan menegaskan bahwa film tersebut bukan untuk mengeruk keuntungan. "Panitia memang mempunyai hak untuk mendapatkan salinan dari film aslinya untuk dokumentasi. Jika terjadi penggandaan dari film tertentu, tentunya kita akan menghubungi bahkan kalau bisa dilibatkan sekaligus dalam proses tersebut. Film dokumenter itu sendiri memang tidak untuk dijual dan hanya diputar untuk kebutuhan sosial dan pendidikan," tukasnya. Jika sampai menuju tahap menghasilkan keuntungan, Iwan menegaskan bahwa pembuat film pasti menjadi orang pertama yang akan diberitahu oleh FFPY dengan motor dibelakangnya bernama Yayasan GAIA.
Beberapa pelajar yang sempat ditemui oleh GudegNet mengungkapkan bahwa FPPY jangan hanya berhenti pada satu titik saja dan tidak terus konsisten dalam pekerjaan yang pernah dirintis sebelumnya. "Kita juga sudah punya rencana bahwa dalam kepengurusan FPPY akan ada pendatang baru yang berasal dari para pemenang FFPY 2004," sambung Iwan. Harapan dari pihak panitia sendiri adalah pelajar, utamanya yang mendapatkan kesempatan untuk sekolah melihat ada satu sisi di luar mereka. "Orang seusia mereka hidup dalam kondisi di mana mereka tidak bisa sekolah dengan kondisi apa pun sehingga memunculkan empati. Kedua, ada dunia yang dekat dengan mereka namun jarang mereka ketahui," ungkapnya.



Kirim Komentar