FKY XVI 2004: Kampung Nitiprayan Pentingkan Kerja Organik dan Naluri Masyarakat
"BIASANYA MASYARAKAT DATANG UNTUK SAKSIKAN FKY, tapi ini berbeda. Paradigmanya dibalik, FKY XVI 2004 yang mendatangi masyarakat dan kebetulan secara infrastruktur di Nitiprayan sudah jadi. Temanya jadi tema kampung terus FKY ikut, jadi ini ada satu kerjasama yang saya pikir menarik antara masyarakat dengan FKY," tukas Harry `Ong` Wahyu salah satu penggerak seni di Nitiprayan saat ditemui GudegNet Selasa (20/07) sore disela-sela pelaksanaan "Among Seni Nitiprayan" yang merupakan rangkaian dari FKY XVI 2004.
Selain infrastruktur masyarakat yang kuat untuk mengadakan acara yang merakyat, Ong --sapaan akrabnya-- mengatakan bahwa banyak orang yang mengatakan desa Nitiprayan merupakan desa budaya atau kampung seniman. Nitiprayan hingga menyandang sebagai kampung seniman, menurut Ong melalui proses yang panjang. "Sebenarnya ini adalah untuk pemberdayaan masyarakat. Kita berkesenian tidak hanya sekedar show-nya saja tapi interaksi budaya-sosial antara masyarakat. Yang kita cari juga bukan hasilnya baik atau buruk, tapi guyub dan ketemunya dengan orang banyak," terangnya.
Ong juga mengungkapkan bagaimana masyarakat Nitiprayan ketemu orang dari luar kota yang asing bagi mereka namun selama proses persiapan dapat menjadi satu, pekerja antara dari luar dengan warga kampung itu sendiri. "Sebenarnya masyarakat kita tidak ada yang disebut dengan rasial atau geger-gegeran itu nggak ada. Sebenarnya kita bekerja dengan media seni dan budaya bisa untuk membuat suatu acara bersama yang besar seperti ini," ungkap Ong.
Sebenarnya, Nitiprayan sudah sejak lama dan menjadi tradisi jika melakukan suatu hajatan pasti di jalan-jalan. "Jadi mainframe kita untuk stage adalah kampung, bukan panggung secara fisik yang tinggi serta megah itu. Jalan inilah yang menjadi panggung, ini penyadaran kepada masyarakat seperti itu bahwa kalau mereka mau pentas nggak ada panggung trus tidak jadi manggung," tuturnya. Bagi Ong, pentas merupakan menampilkan kesenian di mana saja dan bisa dilakukan di depan rumah siapa saja.
Ketika disinggung GudegNet mengenai daya tarik acara kali ini, Ong berkata bahwa stage tersebut tidak hanya terdiri dari satu panggung namun desa itu sendiri. "Jadi ada atmosfir sawah, orang jualan hingga banyak orang sehingga menjadi daya tarik sendiri yang tidak patut dilewatkan," imbuhnya.
Konsep penataan yang dilakukan di Nitiprayan sendiri tidak terpola pada satu titik saja. Ong beserta rekan-rekan yang lain lebih mengemukakan kerja organik dan mengikuti naluri masyarakat. "Kita tidak mengharuskan si A di sini, si B di situ atau siapa di mana lagi. Jadi kita asal bikin dan menata aja dan eksplorasi yang sudah kita buat. Mereka memilih tempatnya masing-masing yang menurut mereka cocok sebagai tempat untuk apresiasi seni-budaya," ungkap Ong lagi.
Seniman papan atas di Yogyakarta tersebut juga berpesan bahwa jangan membedakan antara penampil dengan yang bekerja. "Semuanya memiliki status yang sama. Cuma yang penampil itu nari, yang kerja itu usung-usung," ucapnya.



Kirim Komentar