Wayang Kagok Antar Anak untuk Mengerti Kekerasan Seksual
KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK SEMAKIN MENINGKAT seiring dengan perkembangan teknologi media, seperti tayangan televisi, kemudahan akses Internet, VCD porno dan sebagainya. Di samping itu, anak-anak pun semakin jauh dari proses pendampingan orang tua dalam masa belajarnya tentang segala hal. Hal-hal tersebut sudah layak dan pantas untuk diperhatikan oleh orang tua, praktisi pendidikan dan penjaga moralitas, juga berbagai pihak yang berkepentingan. Sehingga, Hari Anak Nasional pun menjadi semakin indah untuk dimaknai.
Pementasan Wayang Kagok mungkin mampu menjadi salah satu jembatan penyambung putusnya hubungan antara orang tua dengan anak. Apalagi dengan tema "Mengeliminasi Kekerasan Seksual Terhadap Anak", Rofi Widiastuti, sebagai ketua panitia, menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan bimbingan dan perlindungan dari kekerasan yang hampir tiap tahunnya mengalami kenaikan mencapai 100%, berdasarkan data Rifka Anissa tahun 2003.
Kepada GudegNet, Rofi menambahkan bahwa anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual berkisar antara 4-10 tahun. "Mereka sendiri belum pernah mendapatkan sosialisasi mengenai kekerasan seksual dan bagaimana mengantisipasinya. Oleh karena itu, acara didesain untuk mengenalkan anak apa saja yang ada ditubuhnya dan langkah yang diperlukan untuk melindunginya ketika ada seseorang ingin melakukan kejahatan seksual pada dirinya," tukasnya.
Dialog anak-anak dibantu dengan media pertunjukan wayang. "Melalui tokoh-tokoh wayang, kita ingin anak-anak tahu betul apa saja yang harus mereka lakukan untuk melindungi alat kelamin mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pemilihan media wayang sendiri juga merupakan salah satu bentuk untuk mengenalkan budaya yang kita miliki sekaligus muatan-muatan yang ingin disampaikan mengenai tindak kekerasan seksual itu tadi," ungkapnya.
Wayang yang ditampilkan dalam acara tersebut tidak berupa wayang yang berpegang teguh pada pakemnya, namun berupa "wayang kagok" dengan dalang Memet memberikan nuansa yang mampu untuk diserap oleh anak-anak seusia mereka. Penggunaan kata-kata dan ungkapan pun mengalami penyesuaian dalam menceritakan pada peserta anak. Intensitas perhatian yang diberikan anak juga tidak menyurut karena pengiring dalam wayang tersebut dilakukan oleh anak-anak dari Sempoyan berupa musik bambu.
Metode yang ditawarkan pihak panitia kepada anak agar pesan diterima adalah dengan memberikan cerita dongeng yang dimodifikasi sesuai situasi saat ini dan mengajak berpartisipasi secara aktif dengan melatih anak bersikap kritis terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya.



Kirim Komentar