Tiga Jawara Film Dokumenter Sosialisasi Masyarakat Tidak Sekolah

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

AKHIRNYA TIGA FILM DOKUMENTER BERJAYA DI AJANG FESTIVAL FILM PELAJAR YOGYAKARTA (FFPY) dari 4 nominasi yang diajukan dengan dukungan Yayasan GAIA, yang digelar di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Sabtu (24/07) pagi. Ketiganya adalah "Tubuh Kendali Hidup" (Sinescoolholic) sebagai film terbaik, "Asa Yang Terkuburkan" (Kedai Creative Production) sebagai kameraman terbaik dan "NgGo Nar" (Onthel`05) sebagai sutradara terbaik dengan dewan juri Heru Kesowo `Pak Bina` (Praktisi Perfilman), Bambang Paningron (Ketua FKY XVI-2004) juga Budi Satriawan (Etnoreflika).

Ketua Panitia FPPY, A Iwan K kepada GudegNet mengungkapkan bahwa pembuatnya yang berasal dari kalangan pelajar sudah dapat dikatakan bagus. "Pelajar SMA sudah bisa membuat naskah yang bagus dan pengambilan gambar telah menerapkan efek-efek short-long shoot, lighting hingga sudut efek tambahan pada tahap editingnya," ungkapnya.

Film dokumenter "Tubuh Kendali Hidup" banyak bercerita tentang orang yang tinggal di Kraton Yogyakarta dengan budaya yang kosmopolitan sekali. Tokohnya sendiri berasal dari keluarga yang mampu sekolah namun secara pikiran kurang sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan formalnya. Film tersebut, bagi Iwan, memang lebih jeli melihat fenomena yang berkembang di tengah masyarakat.

Film dokumenter "NgGo Nar", menurut Iwan, lebih menggambarkan situasi anak desa dengan kemampuan ekonomi orang tua yang terbatas sehingga memaksa tokoh untuk membantu mencari nafkah daripada sekolah. Pada film "Asa Yang Terkuburkan" merupakan kejadian yang benar-benar terjadi dan diangkat dalam pita film untuk didokumentasikan. "Mereka sempat kesulitan ketika akan mengambil langsung karena belum selesai pengambilan orang tua tokoh utama pada film meninggal dunia. Sedangkan tokohnya harus pulang ke Jawa Barat sehingga harus membuat adegan yang tidak dibintangi oleh tokoh secara langsung," ungkap Iwan.

Berbicara mengenai film dokumenter, Iwan mengungkapkan bahwa yang menjadi dasar dari diskusi workshop tersebut hanya memuat sesuatu yang terjadi dan ada fakta. "Tapi penyajian data di film lebih pada penunjukan poin untuk konteks yang terjadi secara ruang dan waktu. Pemahaman yang dimiliki pelajar masih sangat lurus dalam mengangkat suatu tema sehingga harus banyak eksplorasi pengembangan tema film-film tersebut."

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini