Filosofi Karl May bagi Generasi dan Kalangan Penulis Muda
NAMA BESAR KARL MAY, PENCIPTA TOKOH FIKTIF "INDIAN WINNETOU" ITU mungkin tak banyak dikenal oleh kalangan pembaca generasi paska 1980-an. Namun bagi para pendahulu, nama tersebut sangat berpengaruh. Sebutlah salah satu pelatih PERSIB yang mempunyai nama belakang Winnetou. Selain itu, kebanyakan penulis menjadikan Karl May sebagai inspirator dalam menciptakan karya. Bahkan, salah satu proklamator kemerdekaan RI, Bung Hatta, pun menjadikannya panutan atas filosofi-filosofi yang diutarakan May dalam tiap-tiap buku karangannya.
Karl May yang terlahir bernama Carl Friedrich May adalah seorang seorang keturunan Jerman yang lahir pada 25 Februari 1842 di sebuah kota kecil Ernstthal, Saksen. Bakat menulis yang sudah terlihat sejak ia masih kecil semakin terasah dalam pengalamannya selama di Amerika dan Arab. Kedua negara itu pula yang kemudian memberi inspirasi dalam penciptaan karya tulisnya. Berbagai kejadian yang terjadi di Amerika pada akhir abad 19 hingga awal abad 20, terutama peperangan antara suku Indian dengan para pendatang dalam perebutan tanah Amerika.
"Karya-karya Karl May yang menggunakan setting bangsa Indian di Amerika dan bangsa Arab di Timur Tengah merupakan hasil dari pemahaman May tentang lingkungan geografis dan etnologis ketika ia berada di dua negara tersebut," papar Ashadi Siregar yang menjadi pembicara dalam "Bedah Buku Karl May" (31/07) di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl Suroto 2 Kotabaru. Isinya sendiri berupa analogi multikultural tentang persahabatan, kehidupan orang-orang marjinal yang tertindas (dicontohkannya adalah suku Indian di Amerika Serikat -red), lingkungan hidup, perikemanusiaan, perdamaian dunia budi pekerti, filsafat hidup dan lain sebagainya.
Yang menarik dari Karl May adalah juga pada platform puluhan karyanya di mana ia selalu dapat menemukan nilai lebih dari kelompok-kelompok atau bangsa lain, walau tentu saja juga tidak meremehkan kelompok atau bangsa sendiri. "Karena itulah diharapkan dari diterbitkannya buku-buku Karl May tersebut, semoga dapat dijadikan panutan bagi generasi muda atas filosofi yang diutarakannya," tambah Pandu Ganesha dari Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) yang menyelenggarakan acara bedah buku tersebut.



Kirim Komentar