Melupakan Seni Tata Rias Pengantin Gaya Yogyakarta
SENI TATA RIAS DAN BUSANA PENGANTIN MERUPAKAN PENINGGALAN LELUHUR yang sangat adiluhung dan tinggi nilainya, karena seni tersebut tidak hanya memiliki keindahan tetapi juga sarat akan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Berpijak dari tradisi Kraton Yogyakarta Hadiningrat, seni tata rias dan busana pengantin berkembang di tengah-tengah masyarakat luas dan dewasa ini telah ditetapkan Tata Rias Pengantin Gaya Yogyakarta. Dalam "Festival dan Busana Pengantin Gaya Yogyakarta" oleh Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Parsenibud) Kota Yogyakarta di Hotel Bronto, Sabtu (31/07) siang, muncul 5 paes atau penata rias yang muncul sebagai pemenang festival.
Lima paes yang tampil sebagai pemenang adalah Juara I oleh Supriyani Sudarno (Kec. Mantrijeron), Juara II untuk Erna Asniati (Kec. Gondomanan) dan Juara III diperoleh Sri Daryati (Kec. Tegalrejo). Festival ini diikuti oleh 14 kecamatan yang menampilkan pasangan pengantin dengan tata rias dan busana Jangan Menir. Juri yang dipercaya panitia untuk melakukan penilaian terhadap hasil akhir para paes, yaitu RM Dinusatomo BA, Ibu Lies Adang dan Ibu SMS Purwono.
Corak Paes Ageng Jangan Menir sendiri dipergunakan untuk upacara boyongan pengantin putri ke kediaman pengantin putra yang dilaksanakan setelah akad nikah; busananya adalah baju Blenggen atau bordiran, tidak memakai kampuh (dodot). Untuk tata rias pengantin gaya Yogyakarta yang lain juga terdapat Corak Paes Angeng Kebesaran, Corak Yogya Putri (Corak Sepasaran), Corak Kesatrian Ageng dan Corak Kesatrian.< br>
Kepala Dinas Parsenibud, Drs F Kaswanto mengatakan bahwa festival yang sama sudah dilakukan untuk kedua kalinya yang menampilkan corak seni-budaya Kota Yogyakarta. "Ada banyak juga yang tidak paham mengenai masalah tata rias budaya Jawa. Ini kita coba dan giatkan lagi ternyata emang tidak paham dan sekedar tahu-tahuan aja," ungkapnya. Kaswanto mengemukakan bahwa festival tersebut melibatkan pakar-pakar tata rias gaya Jawa untuk ikut serta nguri-uri dan menjelaskan kepada generasi muda.
Kaswanto juga menyatakan bahwa acara yang serupa dalam hal merangkai janur belum lama ini juga terjadi lonjakan peserta yang justru diikuti oleh generasi muda. "Generasi muda ini datang dari karang taruna yang dimiliki oleh tiap kecamatan, kemampuan semacam ini selain mempertahankan tradisi yang kita miliki juga bisa menambah pemasukan untuk bidang yang mereka tekuni.



Kirim Komentar