Pameran Desain Grafis dan Seni Reklame untuk Malioboro
UNTUK KEDUA KALINYA DI TAHUN 2004, POLITEKNIK PPKP YOGYAKARTA, Program Studi Desain Grafis dan Seni Reklame menggelar pameran desain grafis dan seni reklame dengan tajuk "Djokdja di Matakoe". Pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut akan dimulai pada Kamis (5/08) malam hingga Senin (9/08) mendatang di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.
Ketua Program Studi Desain Grafis dan Seni Reklame, Drs Sumbo Tinarbuko MSn berharap agar masyarakat Yogyakarta lebih memberikan apresiasinya terhadap ruang-ruang publik yang ada di Kota Gudeg. Memunculkan kembali ruang publik yang sehari-hari dilewati atau ditempati dengan balutan lain tentunya mampu memberikan nuansa dan imaginasi yang berbeda pula. Pameran kali merupakan hasil kerjasama antara LSKdeskomvis dengan Prodi Desain Grafis dan Seni Reklame Politeknik PPKP Yogyakarta.
Pameran ini akan mengambil fokus pada Malioboro dan seisinya sebagai salah satu jantung pergerakan ekonomi Kota Yogyakarta. Istilah surga wisata pun dijadikan kata pilihan oleh Sumbo untuk menggambarkan bagaimana Malioboro tetap menjadi pilihan tempat kunjungan baik itu para wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Segala permasalahan yang ada, mulai dari area parkir di sembarang tempat hingga menciptakan kesemrawutan, pedagang kaki lima, kemacetan lalu lintas, polusi udara kendaraan, anak jalanan yang bertebaran hingga bau menyengat di kanan-kiri jalan karena `WC` Malioboro sangat luas dari ujung jalan yang satu hingga ujung lainnya.
"Hal ini tentunya menjadi pemikiran tersendiri bagi masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap kotanya melihat permasalahan yang ada, utamanya Malioboro. Sehingga menjadi suatu desakan tersendiri untuk dilakukan penataan dari keindahan hingga kenyamanan agar terjadi interaksi yang normal kembali dengan lingkungannya," tukas Sumbo.
Berbagai kondisi yang ada di Malioboro tersebut dikemas dalam berbagai karya seni, mulai dari bentuk fotografi, desain grafis hingga seni reklame. Bahannya sendiri, banyak yang menggunakan poster, flayer, iklan koran dan majalah. Tak kalah menarik, mahasiswa juga menggunakan billboard, spanduk, kartu pos, perangko, karcis, t-shirt, visual merchandise, slebor becak, shopping bag, gantungan kunci, hanging design, flag chain, stiker hingga kalender tahunan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai jenis media tersebut banyak dibawa oleh masyarakat dan menghiasi ruang publik yang ada di Kota Yogyakarta. Namun tidak semua media mampu menjadi panduan bagi pengunjung kota Gudeg ini. Bisa jadi media tersebut malah melemahkan tata kotanya. "Lihat saja kondisi Malioboro, mulai masuk dari Jln Kleringan kepadatan dan kekumuhan di kanan-kiri ruas Jln Malioboro hingga Jln A Yani sudah tidak bisa ditutup-tutupi," tukasnya.



Kirim Komentar