Daripada Seniman, Lebih Memilih Jadi Peneliti Iklan
SENI GRAFIS, REKLAME, DAN FOTOGRAFI semestinya tidak hanya diletakkan sebagai media ungkap yang bebas nilai, namun dijadikan wahana untuk menyampaikan opini kritis berupa pesan sosial yang cerdas kepada masyarakat. Lewat opini yang cerdas itu, masyarakat mampu tergugah dan tercerahkan hingga muncul pandangan yang segar dan baru tentang berbagai isu sosial yang mengepung masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan oleh budayawan Indra Tranggono yang membuka Pameran Desain Grafis dan Seni Reklame "Djogja Di Matakoe", Kamis (5/08) malam di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Pameran tersebut merupakan hasil kerjasama antara LSKdeskomvis dengan Program Studi Pameran Desain Grafis dan Seni Reklame PPKP Yogyakarta yang akan berlangsung hingga Senin (9/08) mendatang.
Kepala Program Studi Pameran Desain Grafis dan Seni Reklame, Sumbo Tinarbuko mengatakan bahwa selama ini desain grafis dan seni reklame masih dilihat dari sebelah mata dengan mengatakan perpanjangan tangan dari kapitalisme. "Di satu sisi kita melihat ini sebagai bagian dari ilmu yang selama ini jarang sekali yang ngopeni bagaimana sih prosesnya itu sampai terlihat. Isine meng dodolan, apakah menjadi agen perubahan kebudayan dan sebangsanya," tukas Sumbo. Ia menambahkan, rekan-rekan yang berada di dunia desain grafis dan periklanan termasuk golongan peneliti karena proses yang harus dilewati berawal dari riset, penelitian untuk mengetahui target sasarannya hingga posisi geografis sasarannya tersebut.
Hal tersebut merupakan sesuatu hal yang jarang diungkapkan oleh kebanyakan orang, bahkan bagi Sumbo masih terhitung minim. "Yang sudah yang selesai di laboratorium saja tok tapi jarang sekali yang bisa keluar. Kemudian kawan-kawan yang sudah menjadi praktisi itu kadang-kadang kita nggak tahu apa sih maksud dari karya yang mereka buat itu. Ada yang mengatakan semakin itu membingungkan maka semakin menarik," lanjutnya.
Menyinggung mengenai sentuhan akhir sebuah karya, kepada GudegNet diungkapkan bahwa pameran kali ini memiliki keterbatasan pada tingkat pendidikan D3 sehingga hanya sebatas eksekutor karya. "Meskipun demikian tapi saya mengajarkan bagaimana caranya untuk membuat iklan harus ada landasannya. Tidak hanya merenung, masuk kamar mandi dan menghabiskan rokok berbatang-batang. Itu nggak bisa karena harus tahu siapa target sasarannya," imbuhnya.
Pameran kali menampilkan 300 karya (150 desain grafis dan 150 seni reklame) dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang. Ketua Panitia Pameran, Ahmad Pono Pranowo mengatakan bahwa juga terdapat klasifikasi untuk para mahasiswa dengan karya terbaik dari desain grafis, desain iklan, perancangan iklan komersial hingga fotografi. Masing-masing pemenang untuk tiap kategori antara lain Firman Gianafayo (Desain Grafis), Akbar (Desain Iklan), Agus Sulistiyo (Perancangan Iklan Komersial), Marantino (Desain Poster) dan Ahmad Pono Pranowo (Fotografi).



Kirim Komentar