Seni Grafis dan Reklame hingga Masyarakat Citra dalam "Djodja Di Matakoe"

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

YOGYAKARTA BUKAN LAGI "KASUR TUA" yang indah untuk bermimpi atau ladang yang terlalu nyaman bagi para romantikus. Hal tersebut diungkapkan oleh Indra Tranggono pengamat budaya dan sastrawan dengan meminjam istilah dari Rendra. Mall, pasar swayalan telah menggertak kantung belanja masyarakat. Berbagai makanan cepat saji ala luar negeri menari-nari dalam rongga selera masyarakat.

"Poster iklan, baliho, spanduk, grafiti liar berderap-derap mengepung kita. Lalu lintas macet menggencet kesabaran kita dan jalanan kumuh serta pesing menjadi panorama dan aroma klasik, Yogyakarta gerah," tukasnya lagi.

Dalam perbincangan dengan GudegNet di sela-sela Pameran Desain Grafis dan Seni Reklame "Djodja Di Matakoe" yang diselenggarakan oleh Prodi Desain Grafis dan Seni Reklame PPKP Yogyakarta bekerjasama dengan LSKdeskomvis, Indra banyak menyentil bagaimana masyarakat sudah memasuki babak baru dalam kondisi pencitraan sebagai prioritas hingga output dari seni grafis dan seni reklame itu sendiri.

"Seni grafis maupun seni reklame di tengah kapitalisme global merupakan suatu ladang kreativitas mata pencaharian yang sangat menjanjikan karena masyarakat kita sekarang sedang memasuki apa yang disebut dengan masyarakat citra. Abad citra adalah segala itu akan terbentuk secara visual maka seni grafis merupakan seni yang merespon secara aktif budaya visual itu," tukas Indra.

Budayawan tersebut kemudian mempertanyakan apakah seni grafis dan seni reklame hanya sekedar menjadi alat dari sebuah kekuatan besar. "Saya berharap seni grafis dan seni yang lainnya itu tidak bebas nilai yang berarti mempunyai fungsi sosial, fungsi kebudayan dan fungsi politik untuk mencerahkan masyarakat." tandasnya. Indra pun masih mempunyai kepercayaan bahwa seni grafis bisa memberikan opini kritis tentang kondisi sosial sehingga karya yang disajikan dapat mencerahkan masyarakat.

Indra juga menyebutkan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat ideal sebagai wahana opini kritis seperti kemampuan intelektual dalam melakukan riset sosial dan riset pustaka, dari riset itulah tersaji bahan untuk diolah. Hal ini mutlak dilakukan sebab seni pada dasarnya bukan ruang kosong melainkan disiplin ilmu yang bertumpu pada data dan fakta baik yang bersifat sosiologis maupun yang bersifat psikologis.

Dua nilai ideal lainnya berupa kemampuan visi intelektual dan estetis yang menjadikan sebuah karya seni memiliki kedalaman dan keluasan makna, daya sentuh dan gaya gugah serta kemampuan atau ketrampilan teknis ungkap hingga karya tersebut lahir, muncul dan mampu diapresiasi oleh masyarakat.

"Kita ingat dulu bagaimana Affandi bekerjasama dengan Chairul Anwar membuat poster yang menggelorakan perjuangan pada tahun 1945 misalnya, yang sangat menggetarkan itu. Kita telah mencatat bahwa seni grafis maupun seni reklame bisa bermakna bagi masyarakatnya. Atas dasar itu, saya banyak berharap agar seni grafis dan seni reklame banyak memberikan makna terhadap itu sendiri," ungkapnya mengakhiri perbincangan dengan GudegNet.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini