Peduli pada Kebutuhan Ruang Ekspresi dan Kreasi Anak
MASA DEPAN BANGSA INDONESIA TERLETAK DI PUNDAK ANAK-ANAK SEKARANG. Pernyataan tersebut sering terlontar untuk menggambarkan bahwa anak merupakan aset yang sangat berharga bagi masa depan suatu bangsa. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Drs H Muh Farozin MPd dalam Seminar "Membantu Si Kecil Berkreasi" di Kompleks Taman Komunikasi Kanisius Yogyakarta Sabtu (7/08) siang.
"Bagi anak sendiri, pendidikan merupakan salah satu hak yang harus diperoleh dan dimiliki. Deklarasi dunia mengenai kelangsungan hidup, perlindungan dan pengembangan anak tahun 1990 di New York dan UU No 39 Tahun 1990 sebagai realisasi tentang hak asasi manusia menyatakan bahwa hak anak adalah hak asasi manusia yang diakui dan dilindungi oleh hukum," tukasnya. Farozin menambahkan, pengingkaran atau pengabaian terhadap hak dan oleh siapa pun yang berarti pengingkaran atau pengabaian terhadap martabat kemanusiaan anak.
Tampil sebagai narasumber dipercayakan pada Ninda Kariza dan pembicara dibawakan oleh Farozin (Dinas Pendidikan Nasional DIY), KPH Wironegoro MSc (Pengajar) dan Dra Indria Laksmi Gamayanti MSi (Psikolog). "Peran dari orang tua dan pengajar sangat diperlukan pengalaman tersebut dan orang tua masih sangat dominan dalam melakukan pengawasan kepada anak-anak walaupun masih berada di sekolah," tukas Wironegoro. Ia menambahkan, hal tersebut membuat anak menjadi tidak kreatif dan mandiri. Orang tua masih ngeloni anak-anaknya walau itu masih dikelas. "Itu masih diperlukan di rumah tapi jangan di sekolah agar anak juga bisa terbentuk dengan berbeda lingkungan," tambahnya.
Yanti juga mengatakan bahwa sebagai orang tua, guru dan pendamping mempunyai harapan untuk masa depan putra-putrinya. "Pada intinya, orang tua pada hari tuanya ingin berharap anaknya menjadi manusia yang unggul dan hidup enak. Namun dengan demikian kadang-kadang kita sebagai orang tua rasanya yang ada di kepala ingin kita jejelkan di tubuh kecil itu. Kadang-kadang kita menjadi lupa bahwa anak adalah suatu individu yang unik karena mempunyai bakat dan kemampuan yang berbeda antara satu anak dengan yang lain," tambahnya.
Dengan konsep belajar sambil bermain membuat anak akan menjadi sangat eksploratif terhadap kreativitas. Yanti juga merasa prihatin terhadap sekolah-sekolah yang begitu ketat dan tegangnya bagi anak. "Padahal yang dibutuhkan oleh anak itu tidak hanya pengembangan kemampuan berpikir saja tapi hal-hal yang lain. Ironis sekali, sekarang tolak keberhasilan di sekolah hanya dilihat sekolah mana yang menghasilkan NEM tertinggi bagi siswanya," ungkapnya.
Hampir tidak ada orang yang bertanya, bagi Yanti, sekolah mana menghasilkan anak yang kreatif, berbudaya dan mempunyai perilaku sopan santun yang baik. "Di dalam tumbuh-kembang anak masih membutuhkan interaksi dan bimbingan yang suportif bagaikan anak tangga untuk selalu mencapai kemampuan yang lebih tinggi. Awalnya cuma coret-coret tapi akhirnya bisa membentuk suatu obyek hingga mendekati apa yang anak pikirkan," imbuhnya.



Kirim Komentar