Turunnya Omzet Pedagang Bendera di HUT RI ke-59

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

PERAYAAN HARI ULANG TAHUN (HUT) RI SETIAP 17 AGUSTUS bagi sebagian banyak orang mungkin berarti upacara bendera, kerja bakti, perlombaan antar RT, tirakatan, pentas seni dan lain sebagainya. Namun bagi penjual bendera, even satu tahun sekali tersebut berarti rejeki atau uang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun banyak sekali penjual bendera yang menggelar dagangannya di sepanjang trotoar jalan raya. Tak tanggung-tanggung, bendera merah putih dengan ukuran 25 cm hingga 2 meter berkibar-kibar menutupi badan jalan karena berkibar tertiup angin.

Di sepanjang Jln Jendral Sudirman misalnya, GudegNet menemui lebih dari sepuluh penjual bendera yang memajang dagangan mereka. Dari pengakuan beberapa orang, kegiatan tersebut telah mereka lakukan sejak tanggal 1 Agustus lalu. "Saya berjualan bendera ini dari 1 Agustus lalu sampai Senin malam karena paginya sudah harus disetor kembali ke pemasoknya," papar Purwanti yang mengaku berasal dari Wonosari.

Dengan modal 100 ribu miliknya, 5 kodi bendera berbagai ukuran yang dipasoknya dari Bandung digelarnya dari pukul 08.00 pagi hingga 21.00 setiap harinya. Bendera berukuran 180 cm x 100 cm yang dibelinya 20 ribu rupiah dijualnya seharga 35 ribu rupiah, sedangkan bendera berukuran kecil seharga 1000 ribu rupiah, ia jual 1500 rupiah.

Namun omzet Purwanti tahun ini menurun drastis jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu saja ia bisa mengantongi keuntungan lebih dari 100 ribu untuk 16 hari, sekarang ini ia hanya mendapat untung 50 ribu rupiah untuk 15 bendera yang bisa dijualnya. "Tahun ini sepi pembeli. Nggak tahu kenapa bisa menurun kayak gini, mungkin karena saingan yang makin banyak," jelas Purwanti yang sudah 3 tahun ini berjualan bendera di seberang Hotel Mercure.

Ia berpendapat bahwa keadaan ekonomi negara yang sedang semrawut juga membuat pembeli enggan menengok dagangannya. "Lha wong untuk makan saja susah, kok beli bendera," paparnya. Kesedihan tersebut semakin dirasakan Purwanti dengan adanya retribusi yang dipungut Pemkot sebesar Rp 200,00 per hari. "Walaupun cuma 200 rupiah, tapi kalo tiap hari yang berat, apalagi tidak setiap hari dagangan saya laku terjual," ungkapnya yang diiyakan oleh pedagang lainnya.

Penurunan omzet tersebut juga dirasakan oleh Togog, penjual bendera sekaligus koran di dekat Tugu. "Saya dulu bisa dapat keuntungan lebih dari 200 ribu seminggunya, tapi sekarang ini 100 ribu saja susah dapatnya," paparnya yang mengaku menggelar dagangannya sejak 5 Agustus lalu.

Banyaknya saingan yang juga menjadi alasan sepi pembeli tersebut, akhirnya disiasati dengan menurunkan harga bendera. "Kalau tahun lalu saya menjual bendera yang besar seharga 30 ribu, tahun ini saya hanya berani mematok 20 ribu saja," ungkap Togog yang selama 2 minggu ini berhasil menjual 10 bendera saja. Bahkan untuk pemasokan bendera yang juga dari Bandung, ia hanya mengambil 4 kodi, jauh dari jumlah tahun lalu yang bisa mencapai 7 kodi. Karena itulah ia berharap keadaan tersebut akan berubah tahun depan.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini