Usia Senja Tak Halangi Terus Berkarya
SRI YUNNAH DAN AY KUNCANA DALAM USIA SENJA ternyata tetap konsisten untuk mengabdikan diri pada dunia seni. Pengabdian mereka terlihat dalam pameran yang digelar di Gallery Pitoe sejak Sabtu (7/08) lalu hingga Minggu (15/08) sore. Sri Yunnah yang menginjak umur 64 dan AY Kuncana pada umur 70 sebelumnya baru saja melakukan rally pameran di beberapa kota seperti Kuala Lumpur, Surabaya dan Jakarta.
Kuncana mengungkapkan, melukis sudah menjadi denyut setiap hari apalagi kondisi rumah mereka yang lapang semakin mendukung untuk melampiaskan kreativitas di atas kanvas. "Tapi sekarang sudah tua, jadi sekuat tenaga dan kondisi fisiknya mendukung," ujarnya. Bagi Kuncana dan Sri Yunnah, melukis tidak bisa hilang begitu saja walau fisik mereka kurang mendukung untuk berlama-lama di depan kanvas.
Dengan mengangkat tema "Harmoni Sejoli", keduanya selalu terungkap dalam gagasan dan ide yang selalu sejalan. Berpegangan pada aliran realisme-dekoratif, keduanya juga tidak luput untuk ikut mengomentari kemelut dunia politik yang ada di Indonesia. Beberapa karya di antaranya seperti Petruk Dadi Presiden (Kuncana), Ki Brayat Sukhoi (Kuncana), Ritual Pagi-Sarapan (Sri Yunnah), Demo (Sri Yunnah) dan Pasar Tradisional (Sri Yunnah).
"Saat berkarya, kami terus saling memberikan koreksi, masukan mengenai kelamahan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing, bahkan hingga detail lukisan yang mungkin kurang cocok untuk dimasukkan menjadi bagian di atas kanvas. Dalam proses penggoresannya saja saya juga pasti tanya istri (Sri Yunnah) bagaimana baiknya, dia juga sama saja," ungkap Kuncana.
Pasangan kakek-nenek dengan menggandeng tiga cucu saat ditemui GudegNet di galeri sebelum menutupi rangkaian pameran mereka selama 9 hari, Sri Yunnah mengungkapkan kebanggaan terhadap suami bahwa hingga usia senja mereka masih bisa sejalan dalam gagasan di atas kanvas. "Melukis ini tidak akan berhenti kalau fisiknya masih kuat, tapi kalau tangan sudah tidak kuat pegang kuas pasti berhenti dulu untuk kumpulkan tenaga," imbuh Sri Yunnah.
Keduanya yang merupakan Alumni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) masih menampakkan idealisme mereka dalam menanggapi pergerakan dunia lukis di Indonesia, utamanya Yogyakarta. "Dulu tahun 1970 sampai 1980-an saya sama suami masih kuat untuk buat lukisan berjumlah dua tiap hari apalagi ada teman-teman yang datang untuk melukis di rumah kami. Kami tambah semangat untuk melukis, tapi sekarang biasanya teman-teman datang untuk anjangsana atau cerita-cerita soal masa lalu dan cucunya yang masih bisa digendong kemana-mana," ucap Sri Yunnah.
Menjadi catatan tersendiri bagi kedua pelukis tersebut, yaitu ternyata sebagian lukisan yang pernah mereka produksi tetap tersimpan dan terpajang rapi di Istana Negara Jakarta dan rumah pribadi para pejabat di jaman Orde Baru. "Banyak lukisan yang dibeli oleh pejabat, Pak Harto juga beli dan katanya untuk ditaruh di Istana Negara. Saya bangganya bukan main kalau dilihat siapa saya sebagai orang biasa yang lukisannya mau dibeli oleh presiden," tukasnya.



Kirim Komentar