Dukungan Sistem Pemerintah Jadi Bumerang

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

APA YANG MEMBEDAKAN DUNIA SENI INDONESIA DAN MALAYSIA ? Jawabnya adalah sistem yang menaunginya. Dunia berkesenian Indonesia selama kurun waktu 30 tahun lebih "dipenjara" oleh sistem, sementara negara tetangga di-ninabobo-kan oleh sistem mereka. Sistem yang dimaksud adalah pemerintah Malayasia yang selalu dan kadang berlebihan memberikan dukungan ekonomi bagi kehidupan para senimannya. Lain halnya dengan yang terjadi di dunia seni kita di mana pemerintah seringkali mengabaikan kehidupan para senimannya. Bahkan di masa ORBA dahulu segala bentuk kegiatan berkesenian ditekan sedemikian rupa karena dirasa mengusik kemapanan sistem.

Namun yang terjadi kemudian, alih-alih mati karena "penjara" yang dibuat pemerintah, dunia seni di negara kita justru semakin berkembang di tengah himpitan aturan sistem yang ada. Kian hari semakin banyak seniman-seniman dengan karya berkualitas mereka yang muncul dan menjadi duri bagi sistem tersebut. Penjara dalam arti sebenarnyapun ternyata tidak mampu mematikan otak para seniman kita dalam menuangkan kreativitas dan imajinasi mereka. Lewat karya-karya merka, berbagai kritik sosial dan politik yang menjadi duri sistem tersebut tetap saja mereka tampilkan.

Bukan bermaksud membandingkan, namun yang terjadi di Malaysia sangat jauh berbeda. Kemapanan ekonomi para seniman karena dukungan pemerintah mereka seringkali justru menjadi sebuah bumerang dalam kegiatan berkesenian mereka. Kritik sosial dan politik terhadap sistem yang mereka punyai pun jarang sekali menjadi tema karya-karyanya. Entah karena takut atau bentuk dari politik balas budi seniman pada pemerintah mereka, karya-karya yang dibuat jarang sekali mengomentari sisi negatif dari sistem yang ada. Akibatnya, para seniman negeri jiran tersebut menjadi kurang peka dengan realitas sosial dan politik di negara mereka. Perkembangan dunia seninya pun menjadi tidak semenarik negara kita.

"Komunitas-komunitas seni di negara kami tidak banyak," aku Aisyah Baharuddin, salah satu seniman Malaysia yang ditemui GudegNet di Soboman 219 beberapa waktu lalu dalam program pertukaran seniman Malaysia-Indonesia MAGER II. Minimnya komunitas seni tersebut yang kemudian membuat seniman tidak mempunyai wadah yang tepat dalam mengeksplorasi ide-ide segar mereka dalam suatu dialog seni. Yang sangat terlihat jelas adalah kenyataan bahwa hanya ada segelintir komunitas seni yang sampai sekarang tetap aktif.

"Selama 15 tahun ini, saya melihat sedikit sekali komunitas seni yang berkembang di negara kami, Mata Hati misalnya," jelas Aisyah. Hal itulah yang kemudian membuat kehidupan berkesenian mereka menjadi monoton tanpa greget. Perjuangan seni seperti yang terjadi di Indonesia pun menjadi sebuah tontonan belaka. Legitimasi negara atas profesi mereka melambungkan kelangit ketujuh. Kepekaan akhirnya menjadi satu hal yang tak pernah mereka rasakan.

Diakui Aisyah, dukungan ekonomi dari pemerintah yang bisa mereka peroleh dengan mudah tidak lantas menjadikan kegiatan seni mereka menjadi lebih baik karena menurutnya pemerintah Malaysia tidak membantu mereka sepenuhnya. "Misalnya saja pada pendidikan seni di negara kami. Hanya ada satu universitas di bidang seni di Malaysia, yakni di Kuala Lumpur saja. Bisa dibayangkan bagaimana tidak maksimalnya eksistensi orang-orang kami yang ingin belajar seni lukis," paparnya dalam logat Melayu.

Ditambah lagi sistem pemerintah lama yang menyatukan departemen atau kementrian kesenian, kebudayaan dan pelancongan (pariwisata-red). Hal tersebut membuat mereka tidak bisa secara detil menangani kegiatan dan persoalan yang terjadi di setiap departemen. "Untung saja pemerintah baru kita akhirnya memisahkan departemen pelancongan dari kesenian dan kebudayaan. Hal itu membesarkan hati kami dan berharap agar mereka bisa secara maksimal menangani berbagai macam persoalan yang terjadi di dunia kesenian dan kebudayaan kami," harapnya.

Dicontohkan Aisyah, dukungan yang lebih baik mulai didapatkan oleh seniman-seniman batik mereka karena istri perdana menteri Dato Seri Abdullah Haji Ahmad Badawi, yakni Datin Endan Binti Machmood concern terhadap seni batik. "Karena itulah seni batik di negara kami sekarang ini banyak mengalami perkembangan," jelasnya. Dengan adanya perkembangan ke arah positif baik pada seni batik tersebut itu diharapkan Aisyah pula akan menular pada perkembangan seni-seni lainnya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini