Siswa Demo, Belajar Mengajar SMUN 6 Yogyakarta Terhenti

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

Ratusan siswa SMUN 6 Yogyakarta, utamanya siswa kelas 1 melakukan demo menuntut tolak komersialisasi di sekolah. Demo yang dilakukan sejak pk 08.00 WIB pagi terus berlangsung hingga siang hari. Beberapa tuntunan yang mereka kehendaki mulai dari penurunan SPP, mengadakan transparansi anggaran dana sekolah hingga pelibatan siswa dan orang tua murid dalam mengambil kebijakan sekolah. Hal tersebut diungkapkan oleh Ayu Puspita Sari selaku Koordinator Umum Komite Akasi Pelajar SMUN 6 kepada wartawan Rabu (18/08) pagi di SMUN 6 Yogyakarta.

Ayu mengatakan bahwa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pihak sekolah selalu menunjukkan ketidakberpihakan sekolah pada rakyat miskin. "Bandingkan saja, kenaikan SPP yang dirasakan oleh kota semua siswa SMA 6 Yogyakarta dari Rp 47 ribu menjadi Rp 75-175 ribu. Bagi kami ini adalah bentuk diskriminasi dan pemerasan bagi orang tua kami yang secara ekonomi tidak mampu. Selain kenaikan SPP, dirasa sangat tidak rasional takala hal tersebut tidak diikuti dengan perbaikan segala fasilitas yang dibutuhkan bagi proses belajar-mengajar," tukasnya. Ayu membandingkan hingga saat ini perpustakaan di SMUN 6 tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan akademik siswanya.

Aksi siswa yang pada awalnya dilakukan di lapangan basket dan halaman sekolah akhirnya dapat dibujuk oleh pihak sekolah untuk pindah ke dalam aula. Ruangan aula menjadi padat dan sumpek hingga tak mampu memuat seluruh siswa yang berunjuk rasa tersebut. Perdebatan sengit terjadi lama dan menegangkan urat nadi masing-masing pihak, antara siswa yang berdemo dengan pihak sekolah. Bentrokan fisik juga tidak dapat dihindari sehingga membuat suasana lobby antara kedua pihak semakin keruh.

Ayu menambahkan bahwa yang paling menjijikkan adalah pihak sekolah seenaknya menghamburkan uang hasil keringat orang tua dengan suatu hal yang tidak jelas manfaatnya. "Pihak sekolah lebih memilih membangun taman dari pada membangun tambahan gedung laboratorium yang masih kurang bermanfaat karena sangat dibutuhkan saat ini. Penambahan pekerja kurang seperti cleaning service dan penjaga malam hanyalah menghambur-hamburkan uang bahkan mengubah citra sekolah ini sebagai tempat maksiat. Ketika malam hari penjaga malam seenaknya saja mabuk-mabukan dan membawa wanita ke lingkungan sekolah," ucapnya.

Satu point yang juga menjadi point penting dalam aksi tersebut berupa transparansi dana baik kepada orang tua, subsidi pemerintah kota hingga penggunaan uang pembangunan serta jumlah biaya sumbangan siswa baru. "Siswa-siswi tidak dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan tingkat sekolah seperti yang selama ini dimana seenaknya saja sekolah mewajibkan siswanya membeli buku tanpa ada pembicaraan khusus," tegas Ayu.

Untuk sumbangan dan SPP yang harus dipenuhi oleh siswa baru pada kelas satu, yaitu grade 1 Rp 1,750 jt (sumbangan) dan Rp 75 ribu (SPP), grade 2 Rp 2,250 juta (sumbangan) dan Rp 100 ribu (SPP), grade 3 Rp 2,750 juta (sumbangan) dan rp 125 ribu (SPP), grade 4 sebesar Rp 3,250 juta dan Rp 150 ribu (SPP) hingga grade 5 dengan sumbangan Rp 3,750 juta dan SPP pada level Rp 175 ribu.

Pihak sekolah yang diwakili oleh Drs Suradi Kepala Sekolah SMUN 6 Yogyakarta yang baru saja menjabat 4 bulan lalu mengungkapkan, permasalahan yang diangkat oleh para siswa pernah dibahas antara guru dengan komite sekolah. "Tujuan grade adalah untuk subsidi silang, pembuatan gradenya sendiri dilakukan setelah data yang diisi oleh siswa mengenai kemampuan orang tua. Dari data itu lalu kita membuat keputusan grade mana yang akan diberikan pada orang tua para siswa baru," tuturnya.

Walaupun ada penerapan grade untuk tiap siswa, menurut Suradi, masih ada siswa yang bebas dari pembebanan biaya sekolah hingga lulus. "Masalah besar-kecil anggaran grade dan subsidi sudah dikonsultasikan dengan sekolah negeri yang lain agar tidak terlalu mencolok. Tapi setelah ada demo dari para siswa, kami selaku pihak sekolah akan mengadakan pertemuan antara sekolah dengan komite sekolah dan para orang tua siswa sehingga kebijakan yang telah diterapkan masih dapat berubah," lanjutnya.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini