Jogja Hanya Butuh 3 Jam untuk Kembali Kumuh
KATA KUMUH SENANTIASA MENJADI MOMOK bagi siapa saja yang berpegang teguh pada prinsip kebersihan. Segala cara dilakukan untuk menghilangkan `slempetan-slempetan` yang bertengger di sudut dan jalanan kota. Pasukan kuning kebanggaan Kota Yogyakarta sejak dini hari sudah dikerahkan untuk menggusur sampah dan sisa-sisa kelalaian manusia untuk diberikan kepada Tempat Pembuangan Akhir di Piyungan.
Para pendekar kebersihan di Yogyakarta tidak lelahnya memekikkan jaga kebersihan dan buang sampah pada tempatnya. Namun, apakah masyarakatnya ikut ambil bagian dalam semangat jaga kebersihan?
Tampaknya hal tersebut tidak terbukti secara mutlak. Jika sempat memperhatikan meriahnya "Pawai Jogjaku Damai, Maju dan Berbudaya" sepanjang 5 kilometer lebih memotong Yogyakarta dari Monumen Jogja Kembali yang bergerak ke selatan hingga Alun-Alun Utara pada hari Sabtu (21/08) lalu.
Warga masyarakat memadati pinggiran jalan hingga tak bercelah untuk memberikan kesempatan kepada yang lain agar dapat menikmati keindahan pawai Jogja tersebut. Tak mau kalah, penjaja makanan dan minuman melihat hal tersebut sebagai peluang bisnis untuk menguras barang dagangan yang dibawa sejak pagi hari. Untung-untungan, itulah kata yang keluar dari mulut para pedagang jika terdapat acara dadakan yang sifatnya gedhen-gedhenan.
Kepada GudegNet, Warno penjual bakpao dari Sleman merelakan dirinya berjalan dari ujung hingga ujung untuk menjual bapkao dengan berbagai rasa. Tampak pula soft drink, angkringan, gerobak dorong makanan bertengger di pinggir jalan menunggu pembelinya menyelesaikan makanan yang mereka pesan. Kenikmatan dan kemeriahan yang terhitung selama 3 jam tersebut ternyata membawa konsekuensi yang menyusahkan orang banyak.
Acara pawai sendiri baru selesai tepat pk 17.00 WIB dan kendaraan baik roda dua hingga empat mengantri di belakang rombongan pawai, namun yang menarik perhatian berupa sampah makanan dan jajanan yang berserakan di pinggiran jalan dan tempat sampah yang disediakan kosong melompong. Dari Jln Malioboro hingga Jln A Yani, kemudian menyisir dari awal pawai hingga teteg sepur Malioboro pun pemandangan kumuh tetap tidak dihindari.
Membuat Jogja kumuh pun tidak dibutuhkan seharian lamanya, bahkan hanya memerlukan pusat perhatian untuk membuat masyarakat kumpul di pinggir jalan dengan kerjasama dari para pedangang makanan untuk menyediakan bahan penyebab kekumuhan. Di awal dan tengah pawai, pemandangan kumuh memang tidak terlihat karena tertutup oleh ribuan massa yang berjajar di pinggir jalan. Tapi setelah bubar dan pinggir jalan kosong, gantian pernak-pernik kekumuhan yang berjajar karena ditinggal oleh sang tuan entah ke mana. Tidak meletakkan sampah pada tempatnya? Komitmen atau perilaku kumuh yang berbudaya sehingga hal tersebut sudah menjadi rantai kerja yang harus dilakukan oleh pasukan kuning.
Dari data yang diperoleh GudegNet, baru beberapa hari lalu juga seorang pasukan kuning, yaitu (alm) Sutrisno meninggal ditabrak pengendara sepeda motor saat sedang menjalankan tugasnya di daerah SMPN 12 Yogyakarta. Menurut keterangan rekannya, almarhum biasanya sudah berangkat untuk nyapu jam 00.00 WIB setiap harinya dan selesai pada pk 06.00 WIB.
Menyapu sejak awal di tengah malam sebagai solusi agar terhindar dari kepadatan lalu lintas di pagi hari dan memudahkan dalam mengumpulkan sampah. Ternyata nasibnya tidak sebagus keinginannya untuk membersihkan kekumuhan yang ada di Kota Yogyakarta.



Kirim Komentar