Pertunjukan Wayang ala Yann dan Helene

Oleh : setya hadi nugroho / Senin, 00 0000 00:00

DUNIA WAYANG TIDAK AKAN SELAMANYA DIMONOPOLI INDONESIA dalam kancah warisan kebudayaan, khususnya Jawa. Ketika dua orang Perancis seperti Helene dan Yann menampilkannya melalui media wayang sebagai sarana untuk menyampaikan pesan sosial kepada publik dengan gaya yang kocak tentunya akan menjadi hal yang menarik. Apalagi wayang-wayang yang ditampilkan di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis Jalan Sagan No 3 Yogyakarta, Kamis (26/08) malam hanya berlangsung selama beberapa menit, bukanlah wayang-wayang tradisional seperti yang kita ketahui kebanyakan baik secara langsung maupun lewat televisi.

Helene dan Yann yang sebelumnya bertandang juga di Semarang untuk memberikan workshop kepada anak-anak jalanan di sana ternyata sangat mahir bercerita. Sekalipun cerita yang disampaikan adalah cerita yang ditujukan untuk ditonton anak-anak usia sekolah dasar, walaupun pesan moralnya tentang kebaikan, cinta, ketulusan dan toleransi tidak akan pernah basi. Hanya saja sayang, ketika kendala bahasa menghadang, tidak banyak publik yang bisa paham betul dengan alur dan jalan cerita.

Namun melalui gesture dan mimik ketika Helene mendongeng di sela-sela pertunjungkan wayang, ia bisa membawakannya dengan cara yang sangat ekspresif, akhirnya bisa dimengerti juga. Seperti dalam kisah tentang Fred dan Sandra, sepasang sepatu yang hidupnya ingin selalu berdampingan memberikan warna kocak dalam cerita. Sejak kedatangan sandal jepit, tempat mereka di rak sepatu menjadi terpisah, padahal sebelumnya mereka selalu bisa berciuman setiap saat.

Ketika tiba saat mereka dikenakan oleh si Gemuk yang memiliki mereka, Fred dan Sandra menjadikan gaya jalan pemiliknya menjadi aneh karena mereka akan selalu membentur dalam satu langkah. Karena si pemilik merasakan sakit, kedua sepatu itu kemudian dibuang dan ditemukan anak kecil yang selalu mengenakannya dengan menempelkan kedua telapak kakinya yang akan menjadikan mereka bahagia.

Cerita tentang wayang yang dibawakan kebanyakan tentang dunia anak kecil dan lebih menuju kepada pesan yang mempergunakan hewan sebagai media perantaranya. Tokoh-tokoh seperti robot, makhluk luar angkasa tidak lagi menjadi penting.

Namun mengapa pula serigala selalu ditampilkan menjadi sosok yang jahat dan selalu ingin memakan babi? Mengapa pula kura-kura dan burung menjadi suatu simbol kebaikan hati? Apakah karnivora, seperti macan dan serigala memang akan selamanya direproduksi menjadi sosok yang egois?

Lepas dari itu, usaha dari Helena dan Yann yang melalui wayang kontemporer ini bisa dijadikan contoh bagus, di mana sebuah tradisi budaya tak akan lekang oleh zaman ketika mampu beradaptasi dengan peradaban baru. Apalagi mereka tak segan-segan untuk berdialog dengan penontonnya. Sebelum ke Indonesia, mereka sempat bertandang di negeri Kamboja dan akan ke Tahiti setelah lawatannya di Indonesia.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini