Perbandingan Seni di Akhir Residensi Matahati-Gelaran Budaya
ADA PERTEMUAN, ADA PULA PERPISAHAN. Kedatangan Matahati, salah satu komunitas seni yang cukup punya nama dari Negeri Jiran, Malaysia ke komunitas Gelaran Budaya selama sebulan ini dalam Proyek MAGER II akhirnya harus berakhir. Bayu Utomo Radjikin, Masnoramli, Ahmad Shukri Hamir Soib, Fuad Othman, Illi Farhana, Razman, Zuraimi dan Aisyah Baharrudin yang berkolaborasi seni bersama Yaksa Agus, Januri, Agus Baqul dan Eddy Sulistyo, rencananya 5 September esok akan kembali ke kampung halaman mereka.
Berbagai pengalaman yang tak sedikit selama berada di Kota Gudeg ini menyisakan banyak kenangan manis dan pahit yang tak kan hilang sampai kapanpun. Bahwa proses pembelajaran yang didapat bagi eksistensi seni pun akan jadi guru yang baik bagi mereka di kemudian hari. Komentar kemudian terlontar dari mulut kedua belah pihak sebagai bahan evaluasi diri.
"Banyaknya kegiatan seni dan pluralitas komunitas seni di Indonesia yang kami temui selama sebulan ini semakin meyakinkan kami kalau dinamika seni di sini yang dinamis nyata seperti yang dikatakan orang-orang," papar Razman ketika ditemui GudegNet. Kondisi tersebut yang disadari Razman membedakan perkembangan seni di Indonesia dan Malaysia. Diakuinya, negeri Jiran kalah langkah dalam memajukan dunia seni, khususnya seni rupa walaupun kemapanan ekonomi lebih banyak mereka dapat dibanding di negara kita. Keberadaan dunia lain yang walau penuh perjuangan membuat mereka iri hati.
Namun bukan berarti dunia seni Indonesia adalah yang nomor satu. Ada beberapa koreksi bagi para seniman untuk dijadikan bahan evaluasi dalam memajukan dunia seni kita. Seperti dijelaskan kurator Gelaran Budaya, Rain Rosidi yang mendapat informasi lewat diskusi-diskusi yang sering dilakukannya bersama para seniman Matahati, dinamisnya komunitas seni di negara kita jika dibanding Malaysia karena perbedaan karakter Indonesia yang lebih beragam. Di luar keunggulan tersebut, ada satu permasalahan seni yang serius, yakni kurangnya profesionalitas atas presentasi seni yang kita kerjakan sehingga tidak terdokumentasi dengan baik.
Dicontohkan Rain, standarisasi dan infrastruktur pendidikan seni yang tidak jelas di negara kitalah yang menjadi faktor penghambatnya. Selain itu, keterbatasan aksesibiltas seniman kita pada dunia seni dan seniman di negara lain juga merupakan sebuah koreksi yang patut dicermati. "Mungkin karena sistem fiskal dan mata uang yang lebih rendah dari negara-negara lain yang akhirnya menyulitkan kita untuk dapat berhubungan dan mengakses seni di luar sana," aku Rain. Padahal menurut pendapatnya, untuk dapat terus maju dan berkembang, seni yang merupakan bagian dari kebudayaan seharusnya bersinggungan dengan hal-hal lain diluarnya.
Ditambahkan Aisyah, dari segi presentasi karya pun, kadangkala seniman kita tidak begitu memperhatikan detil yang ada. Misalnya saja banyak galeri seni kita yang tidak menjadikan ruangan penempatan karya sebagai elemen penting. "Ruang galeri di sini banyak yang sekedar dijadikan tempat presentasi karya dan tidak digarap lebih menarik. Berbeda di negara kami dimana para pemilik galeri selalu memperhatikan tiap detil acara sehingga ruang untuk menggelar pameran pun dapat dijadikan faktor yang lebih mempercantik karya,"paparnya.
Karena itulah, dengan diadakannya kegiatan semacam residensi ataupun kolaborasi dengan negara-negara lain seperti yang mereka lakukan, selain akan membuang sekat-sekat negara, diharapkan dapat menumbuhkan saling pengertian dalam mengukur diri sendiri serta menciptakan jaringan-jaringan baru yang akan menguntungkan kedua belah pihak.



Kirim Komentar