Keprihatinan akan Bumi dalam Bisul II ala Kenduri Seni Desa
BISUL II ADALAH KELANJUTAN DARI BISUL I YANG DIGELAR DESEMBER 2002 LALU. Dengan koreografer W Lies Apriani, BISUL II mencoba mengambil intisari dan hakikat dari keberadaan tanah atau bumi sebagai sumber kehidupan bagi semua mahluk, dan persoalan (sampah) plastik menjadi titik soal di dalamnya. Hal tersebut dilakukan Lies di tengah sawah sebagai area pertunjukan dalam Kenduri Seni Tiga Desa (Nitiprayan-Jomegatan-Gumuk) pada Minggu (5/09) malam pk 19.30 WIB.
Sumi, tokoh yang diperankan Lies, dalam mitologi Jawa merupakan representasi dari figur seorang Ibu. Maka tak heran kalau ada istilah Ibu Pertiwi yang mengacu pada gambaran tentang sosok pemilik kesabaran dan kepasrahan. Begitulah, kita bisa melihat betapa sabarnya tanah ketika semua makhluk mengisinya dengan segala sesuatu, termasuk yang bersifat merusak sekalipun.
"Lha, bumi atau tanah itu, begilu ikhlas ketika menerima apa yang telah menjadi sampah yang menjijikkan bagi manusia berupa tahi, muntahan, basi, segala sesuatu yang telah busuk, dan lainnya," tukasnya.
Baginya, semua itu menjadi sahabat yang menjaga keseimbangan alam. Konsep keseimbangan seperti inilah dalam kepercayaan Konfusianisme dikenal sebagai Yin dan Yang, di mana bumi menempati peran utama untuk memberi keseimbangan. Oleh bumi, semua benda diterima, semuanya diakomodasi untuk kemudian diolah menjadi sesuatu yang jauh lebih berguna bagi keselamatan manusia.
Namun tidaklah demikian dengan plastik-plastik olahan industri yang bertebaran di segala tempat. Ketika menjadi sampah, dia menghadirkan ancaman bagi tanah yang tak bisa mengurainya dengan cepat seperti halnya jenis sampah lain. "Kini, sampah plastik teronggok di sudut-sudut bongkahan-bongkahan tanah, berdiri tegak dengan sombongnya. Sampah plastik menghadirkan teror," tambahnya.
Nilai moral dari keadaan itu adalah bahwa sesuatu yang tidak berarti akan mempunyai makna bila kita tidak salah menyentuhnya, dengan penataan "plastik" dapat menghadirkan sesuatu menjadi indah yang mendatangkan pencerahan. Karya koreografi memang dihasilkan untuk menggagas ihwal plastik dengan segenap dinamika persoalan yang melingkupinya. Manusia berperan menjadi subyek untuk bersikap dalam persoalan ini.
Sumi melambangkan Dewi Sri (Dewi Kesuburan) sebagai gambaran tanah (bumi pertiwi) dan Dewa Sri (Dewi Keindahan) sebagai gambaran olah keindahan. Sawah `plastik` sebagai gambaran pencemaran, polusi, kanvas penataan dan panggung. Lies mengandalkan kerabat kerja antara lain Lies Nililaras (Pimpinan Produksi), W Lies Apriani (Penata Tari), Supriadi PW dan Cepi Irawan (Penata Musik), Lies Nitilaras (Penata Rias/ Busana), Bagus Adiprana (Pimpinan Artistik), Laras Lukitaningrum, Inayab Henry P, Felling Heriianti, Candra, Rini, Nou Jepang, Aji Marjio dan Yenny (Pendukung Tari), Lies Nitilaras dan teman-teman (Tata Rupa Panggung) serta Bimo Jalu, Arma-Gendon (Tata Lampu).
Dokumentasi dipercayakan kepada Agus Murdiastomo dan MG. Sugiarti, Publikasi kepada Hayu Sikharini dan Kuss, Slide Profile diberikan wewenang kepada Bagus Adiprana dan Valentine.



Kirim Komentar