"Pameran Dunia Sapu" Bantu Bersihkan Kotoran Kenduri Seni Desa
MENGOLEKSI PERANGKO, UANG KUNO, ATAU BARANG ANTIK BUKAN HAL YANG LUAR BIASA bila dibandingkan dengan aktivitas pasangan suami-istri Sri Puji Winati dan Vincent Meyer yang mengumpulkan sapu untuk dikoleksi dan dipamerkan kepada umum dalam rangka Kenduri Seni Desa yang diselenggarakan selama empat hari (04/09-07/09) tersebut.
Pengoleksian sapu tersebut telah mereka kerjakan sejak delapan bulan yang lalu hingga kini terkumpul 150 koleksi sapu dari dalam dan luar negeri serta 10 kreasi di atas media sapu. Pameran Dunia Sapu yang diangkat dalam gelaran seni desa tersebut berangkat dari sebuah ketidaksengajaan.
“Jadi, pertama kali istri pikir saya edan total, tiba-tiba dia juga tertarik untuk mengoleksinya. Istri mengatakan bahwa tiap sapu punya keunikan dan membuatnya giat mencari sapu-sapu dari daerah lain. Kita lihat ada perbedaan yang sangat menarik, mulai saat itu kita mulai koleksi dan terus berkreasi dengan sapu,” jelas Vincent dengan semangat kepada GudegNet.
Koleksi kebanggaan pasangan tersebut berasal dari Tasikmalaya karena alasan kaya warna. “Ini mungkin satu-satunya sapu dengan banyak warna dari merah, kuning sampai hijau,” lanjutnya. Juga terdapat koleksi sapu Indonesia dari Bandung, Bogor, Kebumen, Majalengka, Boyolali, Bumiayu, Muntilan, Magelang, Yogyakarta, Kulon Progo, Magetan, Madiun, Ngawi dan 10 sapu dari daerah lain yang dikategorikan dalam ruang Indonesia.
Dalam ruang Internasional, Puji dan Vincent mengoleksi dari Perancis, Vietnam, India Selatan, Cina, Peru, Singapura hingga Kanada. Sedangkan 10 kreasi sapu antara lain: sapu gamelan, sapu gitar listrik, sapu terpenjara, sapu sepeda, sapu berenergi, sapu keyboard, sapu bawah laut, sapu kerang dan sapu Murgan (Dewa Shiva).
Dengan adanya festival tiga desa (Nitiprayan-Jomegatan-Gumuk), Puji dan Vincent yang sudah tinggal selama 16 tahun di Nitiprayan, ingin mengungkapkan guyub mereka dengan ikut andil dalam kegiatan tersebut. Memikirkan respon dari anak-anak terhadap koleksi dan kreasi sapu juga terlintas dalam benak kedua seniman sapu itu. “Ini seperti pelajaran geografi, tiap daerah punya kekhasan bagaimana membuat sampai bahan yang dipakai untuk membuat sapu,” terangnya.
Menyinggung mengenai muatan atau simbol yang terdapat dalam sapu tersebut, menurut Vincent, bukan masalah dan jika memang harus diperlihatkan. “Sapu ada bermacam-macam fungsi mulai dari kesehariannya sebagai alat bantu orang untuk nyapu, olahraga (broomball, curling), woro-woro, sirkus, alat sihir dalam sinema Harry Potter, dekorasi, dan untuk simbol politik juga,” ungkapnya.
Ada cerita lucu seputar koleksi sapu saat berada di bandara Singapura dengan membungkus 13 buah sapu dengan kertas koran. Seperti biasanya, sebelum orang naik pesawat harus melalui pemeriksaan barang yang akan dibawa. Jawabannya waktu itu disambut gelak tawa dari orang-orang yang berada di dekatnya, “Petugas di bandara heran kok saya bawa sapu. Lalu dengan nada bercanda, saya katakan kalau harus membersihkan seluruh Indonesia karena banyak yang masih kotor.”



Kirim Komentar