Menjual Larungan Ageng Membeli Berkah Kraton
MASYARAKAT, BAIK LOKAL MAUPUN LUAR, TAK GENTAR akan hempasan air laut yang tinggi dan menempa mereka secara serentak. Perebutan dalam Larungan Ageng terlihat begitu kuat sehingga tak ayal ada yang terdorong hingga tersikut, rasa kesakitan memang terasa. Namun perjuangan tersebut setimpal dengan yang akhirnya didapatkan.
Bu Girah warga Klayar Kalasan yang mendapatkan sekar komplit, menjelaskan bahwa sekar tersebut dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit dari kesleo hingga demam tinggi. Dalam kesehariannya, ternyata Bu Girah seorang tukang pijat, dan sekar tersebut diyakininya dapat digunakan untuk membantu dalam pekerjaannya.
Lainnya, yang mendapatkan jarit atau ageman ndalem sinuwun bukannya digunakan sebagai petuah atau kepercayaan tertentu namun dijual kepada masyarakat yang hendak membelinya karena tidak dapat saat tumpah-ruah di laut. Jual-beli hasil larungan tersebut membentuk seperti pasar tiban yang saling menawar dengan harga tertinggi.
Dari harga-harga tersebut, ternyata untuk setiap buah rata-rata jatuh pada harga Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu. Jumirah asal Solo, sejak pagi hari sudah berada di lokasi Parangkusumo dalam kegiatan lanjutan dari Jumenengan Dalem Sri Sultan HB X untuk menyaksikan Larungan Ageng tersebut bersedia merogoh koceknya sebanyak Rp 200 ribu untuk mendapatkan sinjang poleng. Masyarakat yang lain juga melakukan hal yang sama dan kadang setelah dibeli oleh seseorang, kembali ditawar dengan harga yang lebih tinggi dari harga sebelumnya.
Adapula, bocah kecil yang berhasil mendapatkan koin Kraton sebanyak 3 buah ditawar dengan harga Rp 5 ribu. "Dhek, mbok dhuite tak tukune mangewu, entuk ora? Ngomong karo mbokmu sek kono," tukas seseorang ibu kepada bocah tersebut. Bocah tersebut memang sempat ragu untuk memberikan karena uangnya sudah dipegang calon pembeli tapi kembali direbut.
Warga setempat yang menyaksikan, mengatakan kepada bocah tersebut untuk menyimpannya dan jangan dijual. Ternyata semangat para kolektor barang larungan itu tak padam hingga situ, terus diuber hingga ke sebuah warung dan sang ibu mengatakan bahwa uang itu tidak dijual.
Orang yang berbondong-bondong tersebut, walau harus kecewa mengejar bocah cilik, kembali memutar haluan ke arah pantai untuk memburu komoditi yang lain. Pasar tiban tidak berlangsung lama, hanya butuh sekitar 30 menit hingga pantai terlihat kembali normal.
Untuk para penjual dadakan tersebut, menggenggam uang ratusan ribu ditangan mereka memang membuat kehidupan mereka berubah dalam hitungan hari ke depan. "Yo lumayan no mas, iso dinggo tuku sayur karo lauk," tukas Junarto warga Dusun Parangtritis. Ia yang mengantongi Rp 1,2 juta nampak senang walau hanya akan bertahan dalam dua hingga tiga bulan untuk membantu dapur rumahnya berasap.
"Dhuite le entuk dadakan, dadi nek entek dadakan yo wis jatahe mas. Nek ngene kan yo jenenge untung-untungan," tambahnya disambut suara setuju oleh beberapa orang yang melakukan aktivitas sama.



Kirim Komentar