Keterbelengguan Pengertian yang Butakan Kelompok Sebelah Mata
SEBUAH PENGERTIAN HARUSNYA MEMBUAT SUATU HAL menjadi jelas. Batasan atas suatu konteks ataupun tema nyatanya menjadi inti pembicaraan. Namun tidak demikian bila kita menengok pameran foto "Perempuan dan Waktu" yang diselenggarakan Kelompok Sebelah Mata di KOA Kafe, Jl. Dewi sartika, Sagan 8 selama enam hari ini (17-22 September). Alih-alih mendapatkan intepretasi yang jelas atas 20-an karya yang ditampilkan Aby Irawan, Faisal Rakhman, Very Simbah, Ananta Oedan, Aditya Kameswara, Adhin Hudaya, Dipex dan Helmy Riyadi, keabsurdan justru menggelayuti otak kita.
Boleh-boleh saja para fotografer muda tersebut bersikukuh mengatakan karya foto mereka semisal Gelisah milik Helmy ataupun Menatap Ke Depan-nya Aditya yang menggambarkan potret diri dua orang perempuan dengan pose dan gayanya masing-masing adalah karya seni yang layak pamer, namun bila mereka mau lebih jujur, pemilahan dan pemahaman konsep harusnya dipelajari lebih dalam.
Sebuah karya seni foto seharusnya bisa `berbicara`. Ada isi dan pesan yang tersampaikan. Batasan "Perempuan dan Waktu" tak hanya berkutat pada potret diri para perempuan seksi, muda dan cantik tanpa makna. Bahwa pengertian perempuan tak hanya dimaknai sekedar seonggok daging segar terbalut modernisasi seperti yang banyak terpampang di ruang pamer foto tersebut. Masih ada intepretasi lain yang harus dimengerti.
Walaupun ada segelintir yang mampu menusuk ruang hati, seperti Aborsi dan Urip Iku Rekase Le karya Faizal serta Beda Tetap OK milik Helmy yang mengkritisi kehidupan sosial kita, namun kembali mereka harus terus belajar untuk bisa memaknai tema secara lebih baik. Karena dari selentingan komentar, akibat keterbelengguan pengertian akhirnya membutakan kreativitas dan imajinasi mereka.
"Kelompok Sebelah Mata seharusnya lebih menyempitkan tema supaya karya mereka menjadi lebih menarik," papar fotografer senior, Risman Marah yang menjadi kurator karya para mahasiswa ISI, UPN dan UII tersebut. Tidak sekedar foto-foto gadis muda yang berpose di Benteng Vredeburg seperti yang mereka sodorkan pertama kali padanya sewaktu pemilahan karya yang akan dipamerkan. "Tema Perempuan dan Waktu harusnya lebih menukik pada potret perjuangan perempuan. Hal tersebut akan lebih menarik dan mengesankan," ungkapnya di sela-sela pameran.
Dicontohkan Risman, kehidupan para wanita tua di Pasar Beringharjo yang harus bekerja keras menggelar dagangan mereka di tengah pagi buta karena siang sedikit mereka akan digusur adalah potret yang lebih menarik untuk didokumentasikan dalam sebuah karya. "Dengan demikian mereka akan bisa menunjukkan daya cipta kepada masyarakat yang akan terus mengingatnya," papar Risman seakan menyindir kenyataan yang tak mudah untuk menjadi seorang fotografer yang peka.



Kirim Komentar