Festival Sendratari Tumbuhkan Kreativitas Seni Tari Daerah
SELAMA DUA HARI (17-18/09), DINAS KEBUDAYAAN PROPINSI DIY Bidang Pengembangan Kebudayaan mengadakan Festival Sendratari ke -32 dengan mengambil tempat di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, yang dihadiri oleh ratusan penonton. 80% kursi di dalam gedung berkapasitas 1000 orang itu nyaris dipenuhi sehingga sebelum acara berlangsung kesibukan mencari tempat duduk banyak terlihat. Antusiasme terlihat dari berbagai kalangan yang hadir. Mayoritas dari mereka adalah keluarga seniman, mahasiswa sekolah seni, dan sanggar-sanggar tari yang berkembang di kota ini.
Tepat pukul 20.00 WIB, pemukulan gong sebanyak 3 kali menjadi tanda mulainya festival. Dalam sambutan, Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DIY, Ir. Djoko Budhi Sulistyo mengungkapkan bahwa keberhasilan Festival Sendratari ini bukan saja pekerjaan Pemerintah Daerah tetapi juga karena semangat berkarya dan berkiprahnya para seniman tari dan karawitan di kota Yogyakarta. Festival ini telah secara rutin diadakan sehingga insan tari di Yogyakarta dapat berbangga hati karena mempunyai tradisi melestarikan keseniannya.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Propinsi, Drs. Hartono mengatakan pula dalam pembukaan acara ini bahwa dengan diadakannya festival ini kini semakin meningkat kreativitas masyarakat tak hanya dalam karya tari tetapi juga musik pengiring tari, tata rias, tata busana. Festival sendratari ini mempunyai sasaran dan target khalayak luas, para seniman tari, pemerhati dunia tari, perias, perancang busana, penata musik, hingga para mahasiswa.
Diikuti oleh 5 kontingen terdiri dari 4 Kabupaten dan 1 Kotamadya di Propinsi ini, pada hari pertama, berturut-turut Kabupaten Bantul menyajikan Pupusing Katresnan, Kabupaten Kulon Progo dengan gelaran Satrio Pinilih dan Kotamadya Yogyakarta dengan repertoir berjudul Wahyu Kraton. Festival yang mensyaratkan tema cerita Mataram Baru ini menjadi inspirasi untuk kotamadya Yogyakarta menampilkan gaya tari Yogyakarta yang sudah dimodifikasi serta tidak bertutur secara kronologis. Cerita yang ditampilkan adalah peristiwa menjelang kematian PB II dan bentuk dukungan pribadinya terhadap Mangkubumi yang tengah berjuang melawan Belanda. Spirit Wahyu Kraton ini yang ditampilkan dalam sendratari yang memfokuskan sejarah eksistensi Mataram.
Yogyakarta menurunkan pendukung tari yang sudah terkenal sebagai penari Keraton seperti Antis Tri Cahyani, RM. Krefianto, RM. Haryo Banindro, Paranditya Wintarni, Sumardiyanto, Wiwid Wijono, RM. Sagitama, Ali Nur Sotya Nugroho, Novian Otasari, Ita Aryani, Raras Lukitaningrum, Teresia, Wuyastuti.
Festival ini memperebutkan trophy dan piala bergilir Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X. Piala bergilir itu tahun lalu diraih oleh Kabupaten Bantul. Dewan juri festival ini melibatkan Sunaryadi Maharsiwara, S.S.T., M. Hum, Dr. Hermin Kusmayati, Drs. Y. Subowo, Ida Manutranggana, B.A, dan Whani Darmawan.



Kirim Komentar