Media Komunikasi "GODAGADO" dan Ajang Silaturahmi
KARYA FOTO YANG BAIK TENTUNYA TAK SEKEDAR menjadi dokumentasi satu peristiwa belaka. Bahwa dengan melihatnya saja, pemahaman pun akhirnya terpampang di benak kita, hasil dari satu informasi tak langsung antara foto yang bercerita dan kita sebagai pengamatnya. Metode berkomunikasi itulah yang rasanya coba disampaikan para wartawan foto, seperti Eko Budiantoro, Agus Jumianto, Sugiyanto dan lainnya lewat karya foto mereka yang selama empat hari ini (24-27 September) dipamerkan di Griya KR, Jl. Mangkubumi 42 dengan tajuk "GODAGADO".
Sesuai tajuk yang bermakna keberagaman tema, sebanyak 40-an karya foto yang mereka bidik selama menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis di beberapa kota terpajang cukup apik di ruang pamer tersebut, yang tentu saja bertujuan sebagai media komunikasi bagi publik. Mengambil obyek beberapa peristiwa kebudayaan serta tema human interest yang terjadi di Kota Gudeg dan beberapa kota seperti Purworejo, Klaten dan Kebumen, berbagi macam informasi dan interaksi mereka tampilkan.
Misalnya saja pada foto-foto perayaaan karnaval `Jogjaku Damai` beberapa waktu lalu, Pasewonan Agung di kraton Yogyakarta, Grebeg Maulud Nabi dan sebagainya. Lewat karya-karya tersebut, sebuah informasi penting tentang kehidupan budaya Jawa yang sangat adi luhung tergambar dengan jelas. Bahwa di tengah arus modernisasi dan budaya pop yang membungkus seluruh sendi kehidupan manusia ternyata masih ada sisa-sisa kepedulian hati pada perkembangan dan pelestarian budaya sendiri yang menurut banyak orang sudah out of date atau kuno dalam intepretasinya yang negatif.
Tak hanya itu, tema-tema seputar human interest yang disuguhkan, semisal foto penimbunan sampah yang menjadi permasalahan signifikan di kota, kehidupan malam kota yang tak pernah lepas dari menjamurnya kafe dan diskotik, kesengsaraan anak-anak sekolah yang ruang belajarnya sudah tak layak huni karena akibat bencana alam, kehidupan keseharian yang sederhana para pengrajin di Kebumen serta beberapa foto para wanita dengan berbagai pose menantang yang memperlihatkan aurat dengan sangat gamblang seperti menyadarkan kita betapa dunia kita semakin tua dan penuh dengan kebobrokan dosa-dosa yang mungkin takkan terampuni oleh penjara berapa abad pun.
Diakui oleh Bupati Kebumen Dra. Rustriningsi, MSi yang membuka acara, pameran foto tersebut dirasakannya dapat menjadi media ekspresi yang tepat bagi para seniman foto dalam melakukan komunikasi dengan publik. "Seni memang media yang efektif yang dapat dinikmati masyarakat," paparnya ketika ditemui GudegNet di sela-sela pameran. Lewat seni itu pula, menurut Rustriningsih, berbagai macam penyampaian informasi, termasuk transformasi nilai-nilai luhur budaya dapat direpresentasikan secara baik.
Rustriningsih berharap, pers yang sangat berperan dalam pembangunan di segala bidang, termasuk di dalamnya adalah pembangunan budaya lewat pameran foto tersebut, dapat memperkaya khasanah batin para pelaksana pembangunan, karena sejarah mengajak kita untuk memahami bahwa pembangunan tanpa seni ibaratnya sayur tanpa garam.



Kirim Komentar