Perspektif Molimo yang Tak Kenal Strata

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

PERSPEKTIF YANG LAHIR DARI PEMAHAMAN MANUSIA memang tak layak untuk dipermasalahkan. Apalagi jika pembenaran muncul sebagai tameng pembelaan diri. Logika dan nalar pun sepertinya tak bisa dijadikan batasan dalam membedakan benar dan salah. Mo Limo (mabuk, main, madhat, madhon dan maling) sebagai dosa-dosa yang selalu melekat dalam diri manusia menjadi sah.

Pelawak Marwoto yang menjadi Sang Prabu Kawer Negoro dalam lakon monolog "Marwoto Dadi Ratu" di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) beberapa waktu lalu dalam rangkaian pameran seni rupa "4 Sehat Mo Limo Sempurna" selama seminggu ini (21-27 September) misalnya, menganggap bahwa perbuatan maling boleh-boleh saja dilakukan, asal tidak terlalu banyak, harus dibagi-bagi dan tidak diketahui orang lain.

Yang lebih penting, menurutnya raja Langlang Bawono tersebut, siapa saja dapat melakukan lima dosa tersebut, tanpa pengecualian karena selama ini penggambaran Mo Limo sangatlah segmentif, yakni merupakan penyakit masyarakat bawah yang sering disebut PEKAT. Sementara selama ini tidak ada ungkapan yang mengatakan bahwa Mo Limo pun adalah penyakitnya pejabat atau BEJAT. Sebut saja para pejabat kita yang banyak maling uang rakyat dan negara. Karena itulah siapapun orang, berada di strata apapun dirinya, pastilah ia melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.

Paradoks pun muncul karena kontroversi tersebut. Sang sutradara sekaligus penulis naskah ketoprak Cupet tersebut, Nano Asmorodono mengungkap bahwa kemunafikan terjadi ketika setiap orang yang jelas melakukan Mo Limo tetapi kemudian mengingkarinya. "Banyak orang yang melakukannya tapi tidak mau disebut mo limo," paparnya ketika ditemui GudegNet. Kontroversi itulah yang kemudian menyadarkannya tentang perspektif molimo yang ternyata tidak seburuk sangkaan orang.

"Mo limo tidak jelek untuk dilakukan bahkan bisa mendorong kita untuk berkreasi lebih baik. Asal tahu diri saja," papar Nano. Dicontohkannya tentang perpekstif madhon, orang akan lebih baik bila ada seseorang yang menjadi demenannya. "Kalo biasanya orang datang ke kantor jam 10, tapi dengan adanya pacar atau demenannya di tempat kerja maka ia akan bersemangat untuk datang lebih awal," jelasnya.

Karena itulah, sebagai manusia biasa yang berdosa, ia berharap bahwa bahwa tudingan yang sangat segmentif tersebut pada akhirnya akan luntur. Bahwa dari realita yang ada tercipta sebuah kesimpulan kalau ternyata perbuatan dosa mo limo itu tak kenal strata.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini